Tana Toraja, Eksotisme Alam dan Tradisi di Pegunungan Sulawesi

March 05, 2020

Adakah dari kalian yang tidak mengenal Tana Toraja? Langsung saja mengaku dan tanyakan apapun kepadaku di kolom komentar jika sampai pada kata ini, kalian belum mengenal tentang Tana Toraja. Jika sudah menuliskan di kolom komentar, scroll ke atas dan perhatikan setiap bait kata yang aku tulis di postingan ini. Aku akan bercerita sekilas tentang sebuah tempat yang tersohor akan keindahan alam dan tradisi masyarakatnya yang sangat kental di area pegunungan Sulawesi bernama Tana Toraja.

Mungkin sebagian dari wisatawan sudah tidak asing lagi dengan Pulau Bali. Benar, Bali sangat masyhur akan pantai pasir putih dan tradisi masyarakat Hindu yang sangat kentara. Hal yang sama berlaku juga dengan Tana Toraja. Daerah yang terletak di pegunungan Sulawesi ini dikenal oleh masyarakat domestik bahkan internasional sebagai daerah yang masih menjunjung tinggi tradisi pernikahan dan kematian sejak zaman nenek moyang hingga saat ini.

Petualangan menuju ke Tana Toraja membutuhkan usaha yang ekstra. Kala itu, aku dan kelima temanku, Juki, Reza, Dobi, Dewi, dan Tedo berangkat dari Jakarta pukul 21.55 WIB menuju Kota Makassar dengan estimasi ketibaan di Bandara Sultan Hasanuddin pukul 01.00 WITA. Tanpa ada drama pesawat delay dan sebagainya, kami sampai di Makassar tepat waktu dan sudah ditunggu oleh Mas Agung, driver yang akan mengantarkan kami untuk berkeliling Toraja selama 2 hari 1 malam.

Setelah semuanya beres termasuk mengganjal perut yang kosong, perjalanan ke Tana Toraja melalui jalur darat dengan waktu tempuh 7 jam dimulai!

1. Negeri di Atas Awan Lolai To'tombi
lolai to'tombi toraja
Lolai To'Tombi
Jalanan berkelok ditambah udara dingin menyeruak lewat kaca mobil yang dibuka sangat lebar. "Udaranya seger banget nih." ujar Dewi. Aku pun bingung dengan ucapannya sampai ketika aku melihat ke luar jendela dan menyaksikan sendiri keindahan alam sekeliling Tana Toraja yang menakjubkan. Mas Agung mengarahkan kami untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata terbaru yang hits di Tana Toraja yaitu Lolai Totombi.
lolai to'tombi toraja
Negeri di Atas Awan
Sebenarnya tempat ini hanya semacam spot untuk melihat gundukan awan yang menutupi lembah di bawahnya. Karena Lolai Totombi terletak di atas gundukan awan tersebut, maka disebutlah dengan nama Negeri di Atas Awan. Saat kami sampai disana, awan mendung berhasil mengaburkan pemandangan hamparan persawahan di Tana Toraja sehingga tidak banyak hal yang kami lakukan disana selain duduk dan meregangkan otot setelah 7 jam perjalanan dari Makassar.

2. Desa Kete' Kesu
rumah tongkonan toraja
Rumah Tongkonan
Salah satu ciri khas Suku Tana Toraja adalah adanya rumah adat dengan atap menjulang tinggi yang disebut dengan Rumah Tongkonan. Nah, bentuk rumah adat tersebut bisa ditemui di Desa Kete' Kesu. Seperti menjadi sebuah karakteristik, rumah Tongkonan berjajar rapi membentuk sebuah barisan yang saling berhadap-hadapan dengan pelataran yang memisahkan barisan rumah Tongkonan tersebut.
kete' kesu toraja
Rumah Desa Kete' Kesu
Penasaran dengan keunikan desa ini, aku berbincang dengan warga lokal dan menanyakan seluk beluk tentang Desa Kete' Kesu. Salah seorang warga bercerita bahwa masyarakat Desa Kete' Kesu masih sangat menjunjung tradisi nenek moyang berupa upacara adat dalam rangka acara pernikahan dan kematian warga suku Toraja. Satu hal yang membuatku tercengang adalah dalam sekali upacara adat tersebut dihelat bisa menghabiskan biaya hingga milyaran rupiah. Wow! Jumlah yang fantastis untuk golongan masyarakat yang tinggal di pedesaan.

Selanjutnya aku bertanya tentang rumah Tongkonan. Bisa dilihat pada gambar sebelumnya bahwa di setiap rumah Tongkonan terdapat tanduk yang dipajang di bagian tiang penyangga rumah. Nah, semakin banyak tanduk yang dipajang menandakan semakin tinggi derajat penghuni rumah tersebut di mata masyarakat.

3. Perkuburan Londa
Selain rumah Tongkonan, Perkuburan Londa adalah keunikan lain yang dimiliki oleh suku Toraja berupa sebuah makam yang berada di tebing bebatuan dan di dalam gua. Pemakaman ini adalah milik para bangsawan Toraja yang meninggal lalu tengkoraknya disimpan di tebing batu tersebut atau dimasukkan ke dalam peti.
perkuburan londa toraja
Peti dan Tengkorak di Perkuburan Londa
Masuk ke dalam gua, masih ada lagi beberapa tengkorak dan peti yang tersusun rapi berjejer antara satu dengan yang lainnya. Konon katanya benda-benda tersebut sudah berusia ribuan tahun namun bentuknya terlihat masih utuh. Meskipun kita bisa bebas masuk dan mengambil gambar objek tersebut, sangat tidak dianjurkan untuk menyentuh atau bahkan memindahkan tengkorak dan peti tersebut ya guys hehehe.
goa londa toraja
Peti dan Tengkorak di Gua Londa
  4. Patung Yesus Buntu Burake
Daerah Tana Toraja memiliki penduduk mayoritas memeluk agama Nasrani. Tidak heran jika di sini lebih mudah menemukan gereja daripada masjid. Hal tersebut diperkuat dengan adanya salah satu tempat wisata yang menjadi rujukan para wisatawan ketika berkunjung ke Toraja yaitu Patung Yesus Buntu Burake.


Toraja, 13 April 2019 - Sebagai seorang Muslim, berada di daerah yang mayoritas dihuni oleh masyarakat non Muslim menjadi tantangan tersendiri buatku, seperti di Tana Toraja ini misalnya. Masalah klasik yang mencuat tentunya adalah soal makanan halal. Sejauh mata memperhatikan setiap warung makan di pinggir jalan, aku pastikan dulu di menu yang terpampang di depannya, apakah warung tersebut menjual makanan yang tidak diperbolehkan oleh agamaku atau tidak? . Sulit sekali menemukan warung makan yang aku maksud, dan sekali ketemu warung yang bertuliskan lafadz Bismillah, harganya pun tak masuk akal. Menu sederhana nasi, sayur sop, dan lauk saja dibanderol seharga Rp 35.000. Seketika aku tersadar bahwa ini bukan Jakarta, tapi Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Inilah kenyataan yang pasti akan kita temui saat Travelling, berada di lingkungan baru dan menemui kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi dengan keadaan seperti itu, aku justru bersyukur kepadaNya. Aku bersyukur karena aku jadi tahu rasanya menjadi minoritas di suatu tempat sehingga kelak nantinya aku tahu harus bersikap seperti apa terhadap minoritas jika menjadi mayoritas. Alhamdulillah . 📷 by @marjukiritonga
A post shared by Faliq Hukma A (@faliqhukma) on

Patung ini berada pada ketinggian 1700 meter di atas permukaan laut dan diklaim sebagai Patung Yesus tertinggi di dunia dengan tinggi badan yang menjulang setinggi 45 meter. Objek wisata ini semakin hits dengan adanya jembatan kaca tembus pandang ke bawah sehingga pengunjung bisa seolah berdiri mengambang di udara.
pegunungan toraja
Gugusan Pegunungan Sulawesi
Meski patung ini merupakan perwujudan Yesus, tapi pengunjung dari agama apapun bebas kok buat melihat sekeliling objek wisata Buntu Burake. Panorama di sekeliling Patung Yesus menjadi daya tarik tersendiri karena kita bisa melihat gugusan pegunungan yang mengelilingi Kabupaten Tana Toraja, serasa berada di New Zealand guys hahaha.
gugusan pegunungan toraja
Celebes Mountain
Patung Yesus menjadi spot terakhir yang kami kunjungi di hari itu karena setelahnya hujan deras mengguyur Toraja sehingga mengharuskan kami untuk segera cari makan dan berdiam diri di penginapan hingga keesokan harinya.

5. Bukit Nona Enrekang
Hujan kembali mengguyur Tana Toraja dan sekitarnya di hari kedua kami berada disini sehingga membuat hawa menjadi tambah dingin. Hari itu kami tidak ada rencana untuk mengunjungi spot wisata lain di Toraja karena kami harus segera kembali ke Kota Makassar untuk mengejar penerbangan kembali ke Jakarta di sore harinya dari Bandara Sultan Hasanuddin. Namun, aku sedikit menyisipkan 1 tempat lagi yang menarik untuk dikunjungi searah dengan jalan menuju bandara yaitu Bukit Nona.
bukit nona enrekang
Bukit Nona Enrekang
Bukit Nona secara administratif terletak di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Mengunjungi tempat ini terasa sangat pas bagi kami untuk sejenak meregangkan otot setelah 4 jam perjalanan dari Tana Toraja. Itu artinya masih ada 3 jam lagi yang harus kami tempuh untuk sampai ke Makassar. Tidak sulit menemukan spot terbaik untuk mengambil gambar bukit ini karena letaknya yang berada di pinggir jalan utama Trans Sulawesi.
pemandangan bukit nona
Pemandangan di Sekeliling Bukit Nona
Tentu kami tidak mau ketinggalan dong untuk mengabadikan keelokan lekuk perbukitan hijau khas Bukit Nona. See the picture above! Serasa berada di New Zealand lagi kan hahaha. Gugusan pegunungan khas Sulawesi Selatan memang tidak pernah mengecewakan sedari kemarin dari Tana Toraja.

Seperti yang telah aku tulis pada caption foto Instagramku di atas, Tana Toraja adalah daerah yang mayoritas dihuni oleh pemeluk agama Nasrani. Aku berkunjung kesana sebagai seorang minoritas karena aku adalah seorang muslim. Tentunya hal tersebut bukan menjadi hambatan buatku, tapi aku bersyukur kepada Tuhan bisa diberikan kesempatan untuk menjadi seorang pembelajar agar lebih menghargai keberagaman yang dimiliki oleh Bumi Indonesia. Terima kasih Tana Toraja.

You Might Also Like

0 comments