ASEAN Roadtrip : An Epilogue

October 07, 2019

asean roadtrip recap
ASEAN Road Trip Recap
Tak peduli seberapa jauh kamu melangkah, rumah adalah tempat terbaik untuk kembali. Bukan karena lelah atau kangen. Tapi bagiku, terkadang kita memerlukan suatu jeda dalam suatu perjalanan sebelum kembali melangkah lebih jauh dari sebelumnya, menuju tak terbatas dan melampauinya, ujar Buzz Lightyear, salah satu karakter film animasi Toy Story.

Aku tak pernah menyangka sebelumnya bahwa aku mampu untuk menempuh jarak 2.682 Km selama 19 hari melintasi 5 negara di Asia Tenggara dari Singapura hingga Viet Nam. Aku berangkat dengan rasa ketakutan yang menyelimuti hati dan pikiran negatif yang terus menghantui alam bawah sadarku, mengingat ini adalah kali pertama aku bepergian keluar dari Indonesia, zona nyamanku.

Lantas, apakah aku menyerah? Sama sekali tidak! Aku coba melawan semua hal negatif tersebut demi mewujudkan angan-angan yang sudah aku inginkan sejak lama, melihat luasnya dunia dengan niat untuk belajar dan menjadi modal upgrade diri menjadi lebih baik. Sampai tulisan ini dibuat, aku masih mengucap rasa syukur kepada Tuhan bahwa karena Dia, aku berhasil menyelesaikan petualangan yang kemudian menjadi sebuah cerita untuk dikenang hingga akhir hayatku kelak.

1. SINGAPURA
Negara ini mungkin luasnya tak lebih besar daripada area Jabodetabek, tapi jangan sekali-kali kalian anggap remeh. Permasalahan klasik ketika pergi ke luar negeri adalah ketika kurs mata uang Rupiah lebih rendah daripada negara yang kita tuju yang berakibat pada cost yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Aku menemui masalah itu saat berada di Singapura ketika aku meninggalkan tupperware berisi minuman penuh yang memaksaku untuk membeli air mineral di vending machine yang dibanderol dengan harga 3 SGD. Sekilas nominal tersebut terlihat kecil, tapi jika kita convert SGD ke Rupiah maka nominalnya akan menjadi sekitar Rp 30.000 saat itu. Nyesek banget hahaha.
merlion park singapore
One Fine Day at Singapore
Tapi, hal tersebut tidak perlu disesali terlalu dalam. Aku malah berterima kasih kepada Singapura karena darinya aku belajar banyak hal terutama tentang bagaimana cara bersikap sebagai seorang pendatang di lingkungan baru. Negara tersebut memiliki kualitas tatanan sosial jauh melampaui Indonesia khususnya Jakarta sebagai ibukota negara. Satu hal yang tidak ada di Singapura adalah kemacetan. Dalam opiniku, pemerintah Singapura berhasil mengontrol jumlah kepemilikan kendaraan bermotor khususnya mobil di Singapura dan menggantinya dengan penyediaan fasilitas transportasi umum yang cukup memadai dan terintegrasi antara Bus, LRT, dan MRT.
singapore downtown
Singapore Downtown
Baca : ASEAN Road Trip - Singapura
Selain itu, aku nyaris tidak melihat pedagang kaki lima di Singapura kecuali di area Little India. Hal tersebut secara tidak langsung berdampak pada kebersihan kota yang selalu terjaga. Faktor lain yang mendorong adalah tentu dari segi sumber daya manusia di Singapura yang sangat well-mannered baik itu orang asli Singapura maupun pendatang yang telah menetap di sana. Mereka bisa menyesuaikan dengan regulasi dan culture masyarakat Singapura yang menurutku sih hampir menyerupai warga negara-negara di Eropa dalam mewujudkan tata kehidupan sosial yang baik.

2. MALAYSIA
malacca square
Malacca Square
Lalu, kaki ini melangkah menuju Negeri Jiran Malaysia, negara serumpun yang beberapa kali terlibat kontroversi dengan Indonesia. Aku tidak menemui banyak kesulitan selama berada di sana karena mungkin persamaan budaya dan perbedaan living cost yang tidak terlalu mencolok dengan Indonesia menjadi alasannya. Namun, di negara ini aku mengaktifkan roaming mode dalam hal pemahaman bahasa Melayu. Beberapa kata bahasa Melayu mungkin tampak sama dengan bahasa Indonesia namun tetap saja jika dipadukan dalam sebuah kalimat bingung juga memahaminya. Satu contoh, bahasa Indonesia "mengelilingi" jika diterjemahkan dalam bahasa Melayu menjadi "pusing-pusing". Nah loh hahaha
Baca : ASEAN Road Trip - Malacca
kek lo si temple
Kek Lo Si Temple Penang
Baca : ASEAN Road Trip - Kuala Lumpur
Di Malaysia aku belajar tentang arti persaudaraan yang dimanifestasikan oleh kedua hostku di Malaka dan Kuala Lumpur yaitu Fendy dan Zajib. Perjalananku di Negeri Jiran mungkin terasa hambar tanpa adanya kedua orang tersebut karena mereka banyak bercerita tentang negaranya yang sebelumnya aku tidak ketahui dan menunjukkan sisi kehidupan masyarakat lokal Malaysia. Selama berada di dekat mereka, kami berbincang seolah seperti teman deket yang lama tak bersua, sehingga selalu ada hal bisa menjadi topik obrol ngalor ngidul kami. Terima kasih Fendy dan Zajib.
Baca : ASEAN Road Trip - Penang

3. THAILAND
Semakin aku melangkah jauh, semakin pula aku menyadari bahwa tantangan sebenarnya dari perjalanan panjangku ini baru terlihat ketika memasuki Negeri Gajah Putih, Thailand. Tulisan keriting dan bahasa ibu yang sama sekali aku tidak pahami menjadi kombinasi yang pas untuk menguji mentalku saat itu. Terlebih lagi, tidak banyak orang Thailand yang mampu berbicara Bahasa Inggris, setidaknya untuk memahami percakapan sehari-hari. Kondisi tersebut sangat jauh berbeda dengan Singapura dan Malaysia.
golden mount temple
Golden Mount Temple
Berbicara tentang Thailand adalah berbicara tentang sebuah pertemuan dengan orang-orang baik yang kemudian menjadi kawan perjalananku. Masih dengan nuansa Malaysia, aku tinggal di apartemen Akhdur, seorang pegawai bank dari Malaysia yang mengadu nasib di Bangkok. Aku tidak mengirimkan request apapun kepadanya, namun dia sendiri yang menawarkan kepadaku tempat untuk tinggal selama 4 hari 3 malam di Bangkok. Tak hanya itu, selama tinggal dengan Akhdur, dia selalu mentraktirku makan malam. How kind he is :")
sungai chao praya bangkok
Sungai Chao Praya
Baca : ASEAN Road Trip - Bangkok
Takdir Tuhan bekerja sangat baik kepadaku di Bangkok. Aku bertemu dengan Long, seorang keturunan Jerman-Viet Nam yang kemudian menjadi teman jalanku hingga aku menyelesaikan perjalanan ASEAN Road Trip di Ho Chi Minh City, Viet Nam. Seperti gayung bersambut, sebelum aku memulai petualanganku ini aku berdoa kepadaNya agar dipertemukan seseorang yang sangat baik dan mau menemaniku kemanapun aku pergi hingga akhirnya muncul sesosok Long. Dia seorang atheis, tapi ketika kami singgah di suatu kota, dia tidak pernah keberatan untuk mengikuti gaya travellingku sebagai seorang muslim yang selalu menjaga sholat dan makan makanan halal. Dari Long aku belajar tentang arti memanusiakan manusia, tidak peduli apapun agamamu.

4. KAMBOJA
Tak pernah terbayangkan dalam benakku untuk mengunjungi negara ini. Sesaat sebelum mengunjungi negara ini pun aku masih tidak mempunyai gambaran tentang ada apa di Kamboja. Kaki ini mendarat pertama kali di Siem Reap, sebuah kota yang menjadi tempat satu dari keajaiban dunia UNESCO berupa candi Budha, Angkor Wat. 
kota siem reap
Siem Reap City
Kota ini berdebu, becek dimana-mana, dan sangat jadul tampilannya, pikirku saat itu. Tapi, magis dari Angkor Wat berhasil menyihir pikiranku untuk menghilangkan segenap anggapan negatif tentang Kamboja dan Siem Reap khususnya. Aku terheran-heran melihat setiap detail arca dan stupa yang terdapat disana sambil merenungkan bagaimana orang-orang di zaman dulu menyusun batu sedemikian rupa sehingga bisa terbentuk sebuah candi yang megah dan mengagumkan. Tak henti-hentinya lidah ini mengucap rasa syukur mengingat selama ini aku hanya bisa melihat Angkor Wat secara digital saja namun saat itu aku bisa melihatnya langsung dengan lensa mataku.
Baca : ASEAN Road Trip - Siem Reap
halaman candi angkor wat
Halaman Candi Angkor Wat
Bak menyusuri lorong waktu, aku berpindah dari Siem Reap ke Phnom Penh. Siem Reap seolah menyerupai sebuah kota di Indonesia pada tahun 80an dengan pemandangan kendaraan tradisional dan orang tanpa alas kaki berlalu lalang di setiap sudut kota. Lalu keadaan berubah ketika masuk kota Phnom Penh yang dihiasi gedung pencakar langit dan taman-taman hijau cantik yang sangat terawat. Tapi, satu kesamaan yang dimiliki kedua kota tersebut adalah keadaan ekonomi masyarakatnya sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Baca : ASEAN Road Trip - Phnom Penh
taman phnom penh
Taman Phnom Penh

5. VIET NAM
viet nam logo
Viet Nam Logo
Negara ini sangat bertolak belakang dengan Indonesia dari segi religiusitasnya. Jika di Indonesia hampir 100% penduduknya memiliki agama, namun di Viet Nam 70% penduduknya adalah atheis alias tidak memeluk agama apapun, sedangkan sisanya adalah campuran dari kepercayaan nenek moyang, Nasrani, Islam, dan lainnya. Di Viet Nam, lazim kita melihat bendera yang memuat lambang palu arit terpampang di tiang-tiang pinggir jalanan kota maupun gang-gang sebagai simbol bahwa negara ini menganut ideologi komunis. Kaget, perasaan yang aku rasakan ketika pertama kali melihatnya. Namun, lambat laun hal itu menjadi hal biasa.
taman kota saigon
Taman Kota Saigon
Aku mencoba bersikap open-minded dengan tidak terlalu menganggap hal tersebut tabu mengingat aku datang ke Viet Nam sebagai pendatang. Aku juga tidak serta merta keukeuh pada idealismeku untuk menjaga jarak dengan orang yang tidak beragama. Justru sebaliknya, fakta yang ada membuktikan bahwa aku memiliki teman jalan seorang atheis bernama Long. Saat itu, kita sangat memahami keyakinan masing-masing tanpa memandang mana yang terbaik. Host kami bernama Dzung pun adalah seorang atheis, tapi mereka berdua memperlakukanku sangat baik sehingga tidak ada alasan bagiku untuk menjaga jarak dengan mereka.
Baca : ASEAN Road Trip - Ho Chi Minh
gedung tinggi di saigon
Saigon Skyscraper
Ingin rasanya untuk terus melanjutkan perjalanan dari Viet Nam bagian selatan ke Viet Nam bagian utara dan berakhir di Hanoi. Namun entah mengapa saat itu aku lebih memilih untuk menghentikan perjalanan sesuai target awal di Ho Chi Minh City dan kembali ke Indonesia. Tapi rasa penasaran seolah masih menghantui hati ini. Mungkin suatu saat nanti aku akan kembali ke jalanan, berada di lingkungan yang asing, mendengar bahasa yang sama sekali aku tidak memahami, dan mencicipi makanan yang terasa aneh di lidah. Semoga. Aamiin.

You Might Also Like

4 comments