ASEAN Road Trip : Siem Reap

September 20, 2019

Siem-Reap-Downtown.jpg
Siem Reap Downtown
Ketika merencanakan itinerary untuk mengunjungi negara Kamboja, aku sempat berpikir ulang dan bertanya kepada diriku sendiri. "Apakah aku perlu mengunjungi negara ini?" "Ada apa di Kamboja?" "Bagaimana keadaan lingkungan dan masyarakat disana?" Pertanyaan di atas terus berkutat pikiranku selama beberapa hari sebelum akhirnya aku teringat bahwa di Kamboja ada sebuah situs warisan dunia UNESCO berupa candi Budha bertitel Angkor Wat.

TIBA DI SIEM REAP
Jalanan-berdebu-Siem-Reap.jpg
Jalanan berdebu di Siem Reap
Jalan tanah yang bergelombang dan debu yang beterbangan menjadi penutup perjalanan kami selama 8 jam dari Bangkok ke Siem Reap. Bus Transport Co. yang kami tumpangi mulai menurunkan kecepatannya dan masuk ke pelataran sebuah bangunan yang menjadi tempat pemberhentian akhir bus tersebut. Seusai mengangkat tas dari bagasi, aku mendekat kepada Long dan berdiskusi bagaimana cara untuk menuju ke hostel tempat kami menginap yang terletak 2 km dari tempat kami berdiri saat itu.
Bus-Stop-Transport-Co..jpg
Bus Stop Transport Co.
Lalu tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat dan langsung bercakap dengan Bahasa Inggris yang fasih. Seseorang itu bernama Rith, seorang driver Tuk-Tuk yang telah dipersiapkan oleh perusahaan untuk mengantarkan penumpang menuju ke tempat menginapnya secara gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Wow, pelayanan yang bagus, pikirku saat itu. Tanpa berlama-lama, aku dan Long langsung setuju untuk diantar Rith menuju My Uncle House Hostel.

Di tengah perjalanan, Rith membuka percakapan diantara kami dengan bertanya kemana saja kami akan pergi selama berada di Siem Reap. Sontak, aku pun menjawab tentunya akan melihat kemegahan bangunan Angkor Wat. Tidak ada makan siang yang gratis ternyata, begitupun ongkos perjalanan dari tempat pemberhentian bus - hostel. Memang tarif dari tempat bus berhenti ke hostel tadi gratis. Tetapi, saat aku bilang akan explore Angkor Wat, Rith seperti mengiba kepada kami agar menggunakan jasanya ketika berwisata di Angkor Wat.

Seperti tersudutkan oleh raut wajah Rith yang memelas memohon kepada kami, Long yang pertama kali merespons dan langsung setuju dengan tawaran Rith. Namun, aku sedikit kurang sreg dengan cara Rith menawarkan jasanya dengan cara mengiba. Setelah melihat ekspresi Long yang seolah meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja, aku pun mengangguk dan sepakat untuk menggunakan jasa Rith mengantarkan kami keliling Angkor Wat keesokan harinya. Kami dan Rith deal pada angka 40 USD untuk seharian mengitari seluruh candi di Angkor Wat. Mengakhiri perjalanan kami sore itu, uang sebesar 20 USD kami bayarkan sebagai tanda jadi.

Setibanya di penginapan, aku iseng berselancar di internet untuk mengecek apakah tarif 40 USD itu tergolong wajar atau tidak. Ternyata... kami kena scam gaes hahaha. Rate tarif untuk mengelilingi komplek candi di Angkor Wat dipatok seharga 20 USD dengan rute hanya melewati candi-candi utamanya saja. Nah, untuk mengelilingi semua candinya seperti kesepakatan kami dengan Rith, paling mahal kita harus membayar tambahan 10 USD, bukan 20 USD. Oke baiklah, apa mau dikata karena kita sudah bayar 20 USD sebagai uang muka kepada Rith. Pelajaran pertama di Kamboja, jika hati merasa kurang yakin terhadap sesuatu, jangan turuti itu. Ikuti kata hatimu yang sesungguhnya :D

EXPLORE SIEM REAP (DAY 1)
Pukul 04.30 pagi, panggilan telepon dari nomer yang berkode negara Kamboja masuk ke ponselku. Sempat aku abaikan karena aku merasa tak memiliki seseorang yang aku kenal berdomisili di Kamboja. Tapi panggilan itu terus berulang hingga mataku terbelalak mengetahui bahwa panggilan itu berasal dari Rith yang kemarin aku beri nomer telponku. Kami janjian di waktu esok subuh untuk pergi ke Angkor Wat sebelum matahari terbit. Setelah sholat Subuh dan cuci muka, aku dan Long langsung menghampiri Rith yang telah menunggu di luar penginapan.
Angkor-Wat-Ticketing-Counter.jpg
Angkor Wat Ticketing Counter
Sebelum sampai di komplek candi Angkor Wat, perlu diingat ya gaes, kita harus membeli tiket masuk di counter tiketnya yang berada di tengah kota Siem Reap. Lokasi counter tiket terpisah jarak sekitar 6 km dari Angkor Park. Harga tiketnya pun bervariasi tergantung jumlah harinya, ada yang 1-Day Pass dengan tarif 37 USD, 3-Day pass (62 USD), 7-Day pass (72 USD). Sesuaikan dengan budget dan kebutuhan kalian hehe.
Rith, Driver Tuk Tuk
Inilah rute komplek candi Angkor Wat yang akan kami kelilingi. Sedikit ambisius sih untuk mengunjungi semua candi disana karena luasnya yang teramat sangat. Mari kita lihat seberapa kuat kaki ini melangkah di setiap candinya dan terpapar sinar matahari yang begitu menyengat.
Peta Angkor Wat
Tujuan pertama kami tentunya adalah candi Angkor Wat yang terletak di dekat parkiran tuk-tuk. Kami sampai disana tepat sebelum matahari keluar dari peraduannya. Awan kelabu yang menutupi langit Siem Reap membuatku tidak bisa membuktikan apa yang orang bilang tentang suasana sunrisenya yang istimewa. Jadilah kami hanya bisa mengambil gambar seadanya.
Sunrise-Angkor-Wat.jpg
Sunrise di Angkor Wat
Sekilas tentang Angkor Wat yang dibangun oleh Raja Khmer Suryawarman II pada awal abad ke 12 mulanya adalah candi Hindu yang dipersembahkan oleh sang Raja sebagai bakti kepada Dewa Wisnu. Namun lambat laun, candi ini berubah menjadi candi agama Budha pada akhir abad ke 12. Candi ini berdiri di atas situs seluas 162 Hektar (wikipedia). Hingga sekarang, candi ini masih berfungsi sebagai tempat umat agama Budha menjalankan ritual ibadahnya. Selain itu, Angkor Wat yang menjadi simbol bendera Kamboja juga merupakan pusat pariwisata dan sumber devisa utama negara Kamboja.
Face-Sculpture-of-Bayon-Temple.jpg
Face Sculpture of Bayon Temple
Ta-Phrom-Temple.jpg
Ta Phrom Temple
Puas melihat setiap sudut di Angkor Wat kami beranjak ke candi-candi lain di sekitarnya. Saking banyaknya candi-candi kecil yang berada disana, aku tak dapat mengingat nama-namanya. 2 candi yang cukup terkenal adalah Bayon Temple dan Ta Prohm Temple karena 2 candi ini sangat ikonik dibanding yang lainnya. Berikut sekilas gambar beberapa candi yang dapat aku abadikan dengan kameraku
Angkor-Wat-stairway-to-heaven.jpg
Angkor Wat stairway to heaven
Bangunan Candi di belakang Angkor Wat
Lara Croft meme created by Long :D
Biksu-Angkor-Wat.jpg
Biksu di Angkor Wat
Setelah kelelahan berpindah dan jalan kaki di setiap candinya, tour kelling Angkor Wat kami akhiri pukul 17.00. Kami pun segera menemui Rith yang selalu dengan setia menunggu di luar ketika kami masuk di setiap komplek candi-candinya. Gerimis mengiringi perjalanan kami untuk kembali ke penginapan. Setelah sampai di hostel, kami pun berpisah dengan Rith dan membayar 20 USD lagi sebagai pelunasannya.
Rith, Long, and me
Malam itu, aku dan Long tidak pergi kemana-mana karena merasa kecapekan setelah seharian explore Angkor Wat. Kami menghabiskan waktu bercakap-cakap dengan penghuni hostel lain dan pemilik hostel bernama Sovan yang sangat baik dan ramah :)

EXPLORE SIEM REAP (DAY 2)
Aku dan Long benar-benar satu visi selama perjalanan ini. Malam sebelumnya kami berdiskusi akan kemana pada hari kedua di Siem Reap. Kami sepakat bahwa mungkin akan berkeliling kota saja dengan berjalan kaki karena dengan begitu kita bisa lebih dekat  mengenal setiap sudut kota yang tak terjamah oleh kendaraan.
Siem-Reap-Night-Market.jpg
Siem Reap Night Market
Kami baru keluar penginapan pukul 9 pagi dikarenakan hujan deras yang sempat melanda sedari pukul 6 pagi tadi. Letak penginapan yang strategis membuat kami tak kesulitan untuk berjalan kaki menuju pusat keramaian kota. Perlahan tapi pasti sampailah kami di Siem Reap Night Market. Pasar ini memang judulnya saja "Night Market" tapi siang hari tetap buka kok hehe. Tempat itu menjadi sentral penjualan souvenir murah meriah. Aku dan Long pun tak luput dari hasrat untuk berburu cenderamata. Kami membeli 5 buah kaos seharga 8 USD, 1 tas seharga 4 USD, dan beberapa gantungan kunci seharga 2 USD. Cukup murah bukan? Hehe
Pub-Street-Siem-Reap.jpg
Pub Street Siem Reap
Lelah mengitari Night Market, kami kembali berjalan tanpa arah yang pasti hingga melintasi sebuah papan yang bertuliskan Pub Street. Sesuai namanya, di sepanjang jalan itu berjejer diskotik dan club malam dengan berbagai pernak pernik yang menghiasi. Tapi, tak tampak keramaian yang signifikan ketika kami melintas disana. Ya.. namanya juga club malam dan diskotik, saat siang hari mana buka hehehe.
One cloudy day in Siem Reap
Hari kedua kami benar-benar random. Aku mengenalkan Long pada aktivitas people watch. Sore itu, aku dan dia duduk di seberang Pub Street, meneguk segelas jus mangga dan melon, diam sejenak memperhatikan hiruk pikuk orang yang berlalu lalang di hadapan kami. Terkadang, aktivitas people watch kami selingi dengan diskusi tentang banyak hal mengenai kejadian-kejadian yang telah kami alami sepanjang perjalanan kami dari Thailand hingga Kamboja. Banyak hal yang aku pelajari darinya karena usia kami yang terpaut cukup jauh, 17 tahun. Tentu Long lebih bervariasi pengalaman hidupnya. Seduhan terakhir jus yang kami beli menjadi penutup obrolan berkualitas kami sebelum kembali ke penginapan sore itu.

MENUJU KE PHNOM PENH
Oiya, fyi, selama di Siem Reap kami menginap di Uncle House milik Sovan selama 3 hari 2 malam. Hari pertama kami tidak membayar, lalu hari kedua kami hanya dikenakan tarif sebesar 1,5 USD/malam/orang karena kami mengenal beliau dari Couchsurfing. Betapa beruntungnya kami bisa stay di tempatnya dengan harga segitu dan mendapatkan fasilitas dan keramahan yang tiada tara dibandingkan hotel bintang lima.
Long, Sovan, and me
Kami sangat bersyukur bisa mengenal Sovan. Sosok ayah yang sangat penyayang kepada anaknya, sosok pemilik hotel yang sangat ramah kepada setiap tamu, dan sosok orang yang multitalenta dengan kemampuan digital marketing yang mumpuni. Aku merasa sangat senang mendengarkan setiap celotehannya hingga tak sadar waktu harus memisahkan kami di malam itu karena kami harus bertolak ke Phnom Penh, ibukota Kamboja.
Restoran-Muslim-Melayu.jpg
Restoran Muslim Melayu
Satu-satunya masjid yang aku temui di Siem Reap
Sebelum berangkat ke terminal bus, terlebih dahulu kami menyantap makan malam karena perut sudah meronta-ronta sedari siang tadi. Kami makan di sebuah restoran muslim milik orang melayu. Bisa menjadi referensi nih ketika kalian berada di Siem Reap. Harga makanan yang disajikan berkisar 2 USD - 5 USD per porsi. Pemiliknya bisa cakap Bahasa Melayu dan sangat ramah :)
Pool-Bus-168.jpg
Pool Bus 168
Seberes makan, aku dan Long diantar ke tempat pemberangkatan bus oleh seorang driver tuk-tuk rekanan pemilik restoran tadi. Kami akan menjajal sleeper bus company 168 yang dibanderol dengan tarif 8 USD/orang dengan durasi perjalanan kurang lebih 6 jam. Sangat murah bukan?

Lingkungan Kota Phnom Penh sangat berbeda jauh dengan Siem Reap. Lantas, apa perbedaannya? Bukankah masih sama-sama berada di Kamboja?

You Might Also Like

0 comments