ASEAN Road Trip : Phnom Penh

September 24, 2019

Aku seperti sedang menyusuri lorong waktu saat pertama kali melangkahkan kaki di Phnom Penh, ibukota Kamboja. Ilustrasinya seperti ini, ketika aku berada di Siem Reap seolah aku hidup di masa tahun 90an ketika banyak jalanan yang berlubang dan berdebu, beberapa kendaraan tradisional berlalu lalang, dan tidak banyak pemandangan gedung-gedung bertingkat. Nah, di Phnom Penh hal yang aku sebutkan tadi itu tampak sirna. Tata kota yang rapi, gedung pencakar langit dan taman kota menjadi pemandangan lazim yang bisa kita saksikan.

EXPLORE PHNOM PENH
Aku tiba di Phnom Penh pukul 5 pagi waktu setempat. Keadaan sekeliling masih gelap. Aku termenung di ruang tunggu tempat pemberhentian bus 168 sembari mengumpulkan nyawa yang masih setengah sadar setelah perjalanan selama 6 jam dengan sleeper bus yang cukup nyaman. 
Bus-stop.jpg
Bus stop 168.co Phnom Penh
Berbeda saat berada di Siem Reap, aku dan Long mempunyai target untuk explore Angkor Wat, namun ketika di Phnom Penh kami tidak mempunyai target apapun mengenai tempat yang akan dikunjungi karena memang aku dan Long merencanakan Phnom Penh sebagai tempat transit saja sebelum bertolak ke Saigon keesokan harinya. Namun meskipun begitu, kami tidak mau menyia-menyiakan waktu 1 hari disini. Sebelum menaruh tas di 19 Happy House Backpacker Hostel, aku dan Long menyempatkan diri duduk sebentar menikmati sang surya yang mulai memancarkan sinarnya di tepi Sungai Mekong. 
Sunrise-in-Phnom-Penh.jpg
Sunrise in Phnom Penh
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, kami coba untuk check in di penginapan yang telah kami booking sebelumnya. Memang, di jam tersebut kita belum diperbolehkan untuk check in, tapi apa salahnya kita coba hehe. Voila! Iseng yang berhasil. Kita diperbolehkan untuk early check-in hehehe. Aku dan Long sepakat untuk mandi dan istirahat sebentar saja di hostel, selanjutnya kita akan explore Phnom Penh.
Tempat pertama yang kita tuju adalah Royal Palace Phnom Penh. Namun, saat kami sampai disana, Royal Palace tutup dan tidak bisa dikunjungi oleh wisatawan. Alhasil, kami hanya berkeliling di area sekitar Royal Palace yang disebut sebagai Royal Palace Park dengan pemandangan hamparan rumput hijau dan burung dara yang berterbangan dengan bebasnya. Sejauh mata memandang, tempat ini menjadi space warga lokal menghabiskan waktu untuk sekedar duduk santai dan bercengkerama dengan sesamanya.
Royal-Palace-Park.jpg
Royal Palace Park
Mekong-Riverside.jpg
Mekong Riverside
Menjelajahi kota Phnom Penh, kami memilih untuk berjalan kaki karena rasa penasaran akan setiap sudut di kota ini mendominasi lubuk hati. Kami terus berjalan kemana hati ini ingin melangkah karena memang tidak ada tujuan spesifik tempat yang akan kami tuju hahaha. Bagiku, memperhatikan setiap detail Phnom Penh terasa sangat menarik karena ini adalah kali pertamaku berada di kota ini. Biksu yang berjalan di taman, kendaraan tradisional dan modern bercampur menjadi satu di jalanan kota, dan sederet pemandangan lain yang tidak dapat aku jabarkan satu persatu.
Jalanan-kota-Phnom-Penh.jpg
Jalanan kota Phnom Penh
The-Walking-Biksu.jpg
The Walking Biksu in Phnom Penh
Secara random berjalan melewati setiap jalan dan taman, kami menemui beberapa tempat yang ternyata merupakan tempat wisata di Phnom Penh, sebut saja Angkor Wat National Museum, Monumen Persahabatan China-Cambodia, King Sihanouk Statue, dan Independence Monument of Cambodia. Tempat-tempat tersebut letaknya saling berdekatan satu sama lain sehingga mempermudah kami untuk melihatnya dari dekat. Kalau diperibahasakan sih, sekali mendayung 2 3 pulau terlampaui hoho.
Phnom-Penh-Park.jpg
Phnom Penh Park
Angkor-Wat-National-Museum.jpg
Angkor Wat National Museum
Friendship-Monument-Cambodia-China.jpg
Friendship Monument Cambodia-China
King-Sihanouk-Statue.jpg
King Sihanouk Statue
Independence-Monument-of-Cambodia.jpg
Independence Monument of Cambodia
Khusus Angkor Wat National Museum, tarif 10 USD berlaku untuk setiap pengunjung yang ingin masuk ke dalam museum tersebut. Saat itu kami hanya lewat saja di depan bangunan museum, konon katanya museum tersebut menyajikan cerita sejarah kebangsaan Cambodia dimulai dari zaman kerajaan hingga zaman penjajahan. Selain museum tersebut, semua tempat-tempat yang aku sebutkan di atas gratis untuk dikunjungi.

Arsitektur bangunan di Phnom Penh sebenarnya tidak berbeda jauh dengan Bangkok, Thailand yang di beberapa tempatnya dipenuhi oleh kuil-kuil Budha yang menjadi tempat peribadatan bagi pemeluk agama Budha yang merupakan agama mayoritas di Phnom Penh. Seolah penasaran apakah sama antara kuil di Phnom Penh dan Bangkok, aku dan Long memutuskan untuk coba mengunjungi salah satu kuil disana yaitu Wat Langka. 
Wat-Langka-Phnom-Penh.jpg
Wat Langka Phnom Penh
Aku takjub dengan kuil Wat Langka, terutama dari segi arsitektur gedung utamanya. Sekilas, Wat Langka ini seperti biasa dipakai sebagai tempat ibadah umat Budha karena banyak sekali patung-patung kecil yang digunakan sebagai tempat orang-orang kalau ingin berdoa di luar gedungnya. Namun sayang, waktu kami ke sana Wat Langka tidak dibuka untuk umum, alhasil kami hanya berkeliling di halamannya saja.

Seolah masih penasaran dengan penampakan kuil di Phnom Penh karena Wat Langka tutup, aku mulai membuka google maps untuk melihat apakah ada bangunan serupa yang bisa dikunjungi. Mataku tertuju pada tulisan Wat Phnom di layar ponselku. Tanpa pikir panjang, aku dan Long bergegas menuju kesana dengan berjalan kaki lumayan jauh, sekitar 30 menit dari Wat Langka. Sesampainya disana, Long yang lebih penasaran daripada aku, masuk ke dalam bangunan Wat Phnom untuk melihat ritual keagamaan Budha. Aku hanya berkeliling saja di sekitarnya. 
Tangga-menuju-Wat-Phnom.jpg
Tangga menuju Wat Phnom
Stupa-Wat-Phnom.jpg
Stupa Wat Phnom
Selesai explore Wat Phnom, jam tanganku menunjukkan pukul 15.46 yang menandakan telah masuk waktu Sholat Ashar. Aku meminta izin ke Long untuk mencari masjid terdekat di sekitar Wat Phnom untuk menunaikan ibadah sholat sebentar. Kami berpisah di Wat Phnom, Long kembali ke hostel untuk mandi sore dan aku menuju Masjid Islamic Center Phnom Penh.
Islamic-Center-Phnom-Penh.jpg
Islamic Center Phnom Penh
Meskipun dihuni oleh mayoritas pemeluk agama Budha, namun bangunan Islamic Center Phnom Penh tidak kalah megah dengan kuil-kul sebelumnya yang aku kunjungi. Tiang masjid terlihat menjulang tinggi di sudut kanan dan kiri mengapit kubah masjid di tengah bangunan. Halaman masjid ini cukup luas sehingga digunakan untuk anak-anak bermain bola. Seperti masa kecilku saja bermain bola di halaman masjid, pikirku.

Selesai sholat, aku menatap layar ponselku melihat pesan masuk dari Long bahwa dia sudah berada di tepi Sungai Mekong. Saat itu kami memang sepakat untuk menghabiskan waktu sore di area pinggiran Sungai Mekong sembari menunggu matahari terbenam. Aku cek google maps, letak antara Masjid dan Sungai Mekong terlampau lumayan jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tanpa pikir panjang aku membuka PassApp, semacam aplikasi transportasi online Kamboja, dan memesan TukTuk. Perjalanan dari Islamic Center Phnom Penh ke Sungai Mekong dibanderol dengan harga 1 USD saja. Cukup murah bukan? hehe
Tuk-Tuk-Phnom-Penh.jpg
Tuk Tuk Phnom Penh
Setibanya disana, awan mendung terlihat menyelimuti langit Sore Phnom Penh yang berdampak pada pupusnya angan-angan kami untuk melihat matahari terbenam di Sungai Mekong. Namun tak mengapa, kami mempunyai sederet opsi lain aktivitas yang bisa kami lakukan disana. Mulanya kami berjalan menyusuri tepi sungai untuk memperhatikan aktivitas warga disana. Lalu, kami duduk di sebuah kursi. Disitu, kami kembali saling bertukar cerita sembari menyusun rencana perjalanan menuju Saigon, Viet Nam keesokan harinya.
 
Menutup petualangan kami hari itu di Phnom Penh, kami makan malam di sebuah restoran halal tak jauh dari Sungai Mekong. Rendang dan Kwetiaw menjadi menu santap malam kami hari itu. Terasa nikmat sekali menu yang kami pilih tersebut setelah lelah berkeliling tanpa arah mengitari kota hahaha.

Jika boleh disimpulkan dari perjalanan kami seharian mengitari Phnom Penh, bisa dibilang kota tersebut adalah zona nyamannya Kamboja. Phnom Penh jauh lebih maju dan well-organized daripada Siem Reap. Hal itu dibuktikan dengan tersedianya banyak open space disana, tranportasi umum yang memadai, mata pencaharian penduduk yang lebih beragam, dan beberapa keunggulan lainnya. Kota Phnom Penh juga tak pernah sepi dari para pelancong mancanegara yang berlalu lalang. Mungkin hal tersebut menjadi salah satu faktor penyokong ekonomi masyarakat ibukota Kamboja.

MENUJU KE HO CHI MINH CITY
Keberangkatan kami ke Ho Chi Minh menjadi salah satu perjalanan yang paling emosional bagi Long. Dia adalah keturunan asli Viet Nam yang lahir di Saigon namun tumbuh dan menghabiskan sebagian besar hidupnya tinggal di Jerman. Perjalanan denganku ke Saigon adalah kali pertama bagi dia untuk kembali ke tanah kelahirannya. Terlihat dari raut wajahnya, Long begitu excited dan tidak sabar untuk segera sampai di Saigon. Aku merasa terhormat bisa menemani Long kembali ke kampung halamannya :)

Pagi itu hari masih gelap, matahari pun masih tampak malu-malu menampakkan sinarnya. Namun, aku dan Long harus segera mengemasi barang-barang kami dari hostel dan berangkat menuju pool bus Sapaco yang akan mengantarkan kami menuju Ho Chi Minh City. Viet Nam akan menjadi negara kelima sekaligus negara tujuan terakhir dari serangkaian pengembaraanku melalui jalur darat di ASEAN. 

Perjalanan menuju Saigon akan menempuh waktu 7 jam termasuk proses clearance di border Krong Bavet - Moc Bay. Sebelum bus berangkat, kami mengisi perut terlebih dahulu dengan membeli sarapan dari pedagang kaki lima yang nongkrong di depan pool bus. Pop Mie dan air putih aku pilih sebagai menu sarapan saat itu karena tidak ada opsi lain yang dijajakan oleh pedagang tersebut. Cukuplah untuk mengganjal perut sementara. 

Kami sampai di perbatasan Kamboja - Viet Nam tepat pukul 1 siang. Perasaanku saat itu jauh berbeda dengan perasaan saat melintas perbatasan Thailand - Kamboja yang khawatir akan ancaman kejahatan kriminal, scam visa, dan segenap kekhawatiran lainnya (Baca : ASEAN Road Trip : Bangkok). Perbatasan ini lebih terstruktur dan jelas proses bisnisnya sehingga memudahkan wisatawan untuk melintas dari Kamboja ke Viet Nam maupun sebaliknya. Praktik pungli pun tidak terlihat secara vulgar disini, tapi aku tidak tahu menahu di balik layarnya hehehe.
Vietnam-Border-Building.jpg
Pos perbatasan milik Viet Nam

You Might Also Like

0 comments