ASEAN Road Trip : Malacca

September 08, 2019

travelling in malacca
Travelling in Malacca
Pertama kali ketika menyusun itinerary, aku tak memasukkan Malacca sebagai salah satu kota yang menjadi pemberhentian di perjalananku selama 19 hari Overland ASEAN. Lalu, aku baca beberapa referensi para travel blogger bahwa mereka sangat merekomendasikan untuk mengunjungi Malacca paling tidak sehari saja ketika singgah di Malaysia. Awalnya, aku tak mengindahkan apa yang mereka tuliskan tentang Malacca. Tapi, rasa penasaran menyeruak seketika. Tak berpikir lama, setelah mencari dan menelusuri segala hal tentang Malacca melalui internet, aku langsung jatuh cinta kepada Malacca.

MENUJU MALACCA
larkin terminal
Larkin Terminal
Bus Causeway Link membawaku dari Queen St Terminal Singapura menuju Larkin Terminal Johor Bahru, Malaysia. Nah, di Johor ini, aku mulai roaming mendengarkan orang bercakap dengan Bahasa Melayu, sebagian percakapan mereka bisa aku pahami, namun sebagian tidak, karena antara Bahasa Indonesia dan Melayu memiliki sedikit perbedaan. Aku mulai mengaktifkan radar untuk mencari loket pembelian bus menuju Malacca. Setelah menemukan letak counter penjualan tiketnya, akhirnya aku mendapatkan bus Mayang Sari yang akan mengantarkanku ke Malacca dengan harga 18 RM.
Tiket Bus Mayang Sari ke Malacca
Bus berangkat tepat pukul 1 siang dan akan sampai di Malaka Sentral pukul 5 sore. Di Malacca nanti, aku akan dijemput oleh host yang sudah aku hubungi sebelumnya melalui aplikasi Couchsurfing, Fendy namanya.

EXPLORE MALACCA
melaka sentral bus station
Melaka Sentral Bus Station
Udara panas langsung menyengat kulitku sesaat setelah keluar dari Terminal Malaka Sentral yang menjadi tempat pemberhentian terakhir bus yang aku naiki dari Johor Bahru tadi. Aku berjalan ke depan terminal dan menemui Fendy yang telah menunggu di dalam mobilnya. Dia akan mengantarkanku untuk beristirahat sebentar di rumahnya sebelum mengexplore wilayah yang menjadi titik kumpul para pelancong dari berbagai penjuru dunia yaitu Red Square Malacca. 

Malam hari, satu tempat yang tidak boleh kalian lewatkan adalah Jonker Street yang menjadi main tourist attraction. Disini, kita akan menemukan banyak restoran dan bar yang seolah memancing wisatawan untuk masuk ke dalamnya. Saat itu kondisi Jonker Street tidak terlalu ramai karena aku berkunjung saat weekdays. Aku hanya berjalan saja dari ujung jalan satu ke ujung jalan lain, tidak merencanakan untuk masuk ke salah satu bar di Jonker Street.
jonker street malaka
Jonker Street
Selesai dari Jonker Street, kami kembali menuju Red Square Malacca. Sebelum sampai sana, kami berhenti sejenak di tengah jembatan penyeberangan yang berada di atas Malacca River. Dari sudut ini, kita bisa melihat pemandangan Sungai Malacca yang diapit oleh rumah-rumah penduduk di tepian sungainya. Fendy bertutur bahwa pemandangan Malacca River saat malam hari suasanya mirip dengan kota Venice di Italia. Ya, meskipun belum pernah ke Venice, tapi aku bisa membayangkan bagaimana pemandangannya disana dengan melihat Malacca River pada malam hari ini.
melaka riverview
Malacca River at Night
i love melaka
I <3 Melaka
Keesokan harinya, Fendy tiba-tiba ada keperluan mendadak dengan temannya di tempat ia bekerja sehingga tidak bisa menemaniku untuk jalan-jalan di Kota Malacca. "Aku akan turunkan kamu di Red Square sehingga nantinya kamu bisa bebas mengeksplorasi setiap tempat wisata disana" tutur Fendy. Baiklah, aku ikut apa kata dia. Itu berarti, aku harus menggendong tas ransel 35 Liter di punggungku ketika aku berjalan nanti. Tapi, hal itu rasanya mustahil. Aku mencari cara bagaimana agar aku tidak menggendong ranselku ini karena ternyata berat sekali. 
red square malacca
Red Square Malacca
Iseng bertanya di pos polisi, tiba-tiba bapak polisi bernama Amir dengan sukarela menyuruhku untuk menaruh tas di pos jaga dan dia akan menjaga barang bawaanku tersebut. Bak dapat rejeki nomplok, aku sangat berterima kasih kepadanya karena dengan begitu gerakku bisa lebih leluasa untuk mengeksplor Malacca selama 3 jam sebelum aku berangkat ke Kuala Lumpur malam harinya. Terima kasih pak :')
Aku dan Bapak Amir
Tas sudah aman, 3 jam petualangan di Malacca dimulai! Tujuan pertamaku adalah Independence Museum Malaysia. Sesuai namanya, museum ini menceritakan tentang perjuangan rakyat Malaysia memperoleh kemerdekaannya 63 tahun silam atau tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1956 dari Kerajaan Britania Raya. Di Museum ini diceritakan secara komprehensif masa-masa kelam bangsa Malaysia khususnya wilayah Malacca yang dahulu dikuasai oleh kolonial Portugis, Inggris, dan Jepang hingga masa pasca kemerdekaan Malaysia.
independence museum malaysia
Independence Museum Malaysia
Aku menghabiskan waktu sekitar 45 menit di museum ini. Setelah itu, aku keluar bangunan museum dan melihat di sekitar museum tersebut hingga mataku tertuju pada sebuah bangunan kuno yang berbentuk menyerupai benteng. Bangunan tersebut bernama A Famosa. Benteng ini adalah peninggalan bangsa Portugis selama berkuasa di Malaka pada abad 16 silam. Gerbang kecil yang bernama Fort De Santiago menjadi satu-satunya bangunan yang tersisa dari kolonial Portugis. Sisanya sudah lenyap dihancurkan oleh Inggris.
fort de santiago malacca
Fort de Santiago

a famosa malacca
A Famosa
Dari A Famosa, aku berjalan ke objek wisata lain di area Red Square hingga akhirnya aku berhenti di sebuah gereja tua berwarna merah. Terlihat sebuah tulisan di atap bagian depan, gereja ini bernama Christ Curch Melaka. Banyak orang berusaha mengambil gambar dengan latar belakang gereja tersebut. Iseng bertanya ke salah satu turis disana, mereka melihat gereja ini unik karena dindingnya yang berwarna merah. 
christ church malacca
Christ Curch Malaka
Aku melihat di sekeliling Red Square. Ternyata, tak hanya Christ Church saja yang dindingnya berwarna merah, namun seluruh bangunan yang ada di sana semuanya diberi cat warna merah. Itulah mengapa area di sekitar gereja tersebut diberi nama Red Square. Belum afdhol rasanya kalau ke Malaka tapi tidak mengunjungi Red Square karena disinilah titik kumpul para wisatawan untuk sekedar sightseeing jantung kota Malacca yang dikombinasikan dengan Malacca River yang mengalir pelan membelah kota Malacca.
bandaraya melaka
Bandaraya Melaka
malacca river noon
Malacca River at Noon
malacca river cruise
Malacca River Cruise
Ada satu transportasi unik yang aku lihat mondar-mandir di Red Square. Aku tidak tahu apa sebutan moda transportasi ini, tapi kalau aku misalkan dengan kondisi di Indonesia, aku bisa bilang bentuknya menyerupai sebuah becak. Namun di Malacca, becak-becak tersebut dihias dengan aksesoris yang berwarna-warni dilengkapi dengan alat pemutar lagu yang nantinya akan disesuaikan dengan permintaan penumpang. Menarik bukan? :D
becak malacca
Becak Malaka
Berjalan menjauh dari Red Square, aku menemukan objek lain yang tak kalah menarik yaitu bangunan tua berwarna putih bernama Gereja St. Francis Xavier. Gereja ini terletak di pinggir jalan sebelum masuk ke area Little India. Arsitekturnya yang menyerupai bangunan kontemporer khas Eropa membuat diriku ingin mengabadikan bangunan gereja ini ke dalam memori kameraku.
st. francis xavier church
St. Francis Xavier Church
Setelah aku rasa cukup mengelilingi Malacca selama 3 jam, aku melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Itu artinya, aku harus segera bergegas ke Terminal Bus Malaka Sentral untuk melanjutkan perjalananku menuju Kuala Lumpur. Dari titik aku mengambil gambar Gereja St. Francis Xavier, aku bertemu dengan stranger asal Jepang yang kebetulan memiliki tujuan yang sama ke Malaka Sentral. Kami patungan memesan GrabCar untuk menuju ke sana.

Aku sampai di Terminal Malaka Sentral pukul 5 sore dan langsung menuju vending machine untuk memesan tiket bus ke Kuala Lumpur. Kali ini, nasib baik tidak berpihak kepadaku. Aku kehabisan tiket bus tercepat menuju Kuala Lumpur yang akan berangkat pukul 6 sore. Alhasil, mau tidak mau, aku harus memilih bus lain dengan waktu keberangkatan pukul 8 malam. Awalnya aku tak menyangka kalau bakal kehabisan tiket bus seperti ini. Tapi, apa boleh buat hehehe.

Di Kuala Lumpur, segalanya terasa lebih mudah buatku karena ada orang baik yang membersamaiku selama aku berada disana. Siapakah dia?

You Might Also Like

0 comments