ASEAN Road Trip : Kuala Lumpur

September 11, 2019

Mengunjungi negeri Jiran membuat diri ini serasa masih berada di Indonesia. Budaya yang tidak jauh berbeda, mayoritas penduduk memeluk agama Islam, dan rasa makanan yang terasa familiar di lidah menjadi sederet faktor mengapa aku bisa berkata seperti itu. Hal yang sama terjadi juga ketika aku tiba di Kuala Lumpur pada hari itu. Suasana di kota itu mengingatkanku akan suasana ibukota Jakarta yang penuh dengan keriuhan kendaraan bermotor dan orang yang berlalu lalang.

Bunyi decitan rem bus membangunkanku dari tidur di sepanjang perjalanan dari Malacca menuju Kuala Lumpur. Cahaya terang menembus tirai yang menutupi kaca bus. Aku mulai melihat maps di ponsel dan ternyata bus sudah mulai memasuki komplek Terminal Bersepadu Selatan (TBS) yang menjadi tempat pemberhentian terakhir Bus Delima yang aku naiki dari Malacca ini.
Bagian Luar Terminal Bersepadu Selatan
Aku tiba di Kuala Lumpur tepat pukul 10 malam. Aku melihat notifikasi di ponsel dan ada pesan dari salah satu orang baik yang aku temui di Kuala Lumpur. Dia adalah Zajib Zahim, orang lokal yang akan menampungku selama 2 hari di Kuala Lumpur.

EXPLORE KUALA LUMPUR (DAY 1)
Aku menginap di rumah Zajib yang berlokasi di daerah Stasiun MRT Sri Raya, sekitar 15 Km dari pusat kota. Dikarenakan rumah Zajib yang terletak agak jauh tersebut, hari pertamaku di Kuala Lumpur, aku akan ikut dengannya berangkat kerja pada pagi buta pukul 06.30. Aku sudah mendapatkan briefing darinya semalam tentang tempat-tempat yang harus aku kunjungi ketika berada di KL. Baiklah, aku catat satu per satu apa yang ia bilang. Zajib menurunkanku di area Tugu Negara. Dari situ, aku akan berkeliling menuju satu per satu tempat di KL yang bisa aku kunjungi.
Tugu-Negara-Malaysia.jpg
Tugu Negara Malaysia
Tugu Negara menjadi tempat pertama yang aku kunjungi. Tugu ini adalah semacam monumen persembahan untuk para pahlawan Malaysia yang gugur selama masa perang berkecamuk di Negeri Jiran baik itu Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Kedaruratan Tanah Melayu. Tidak banyak yang aku lakukan disana karena memang hanya objek patung itu saja yang berada disana.
Perdana-Botanical-Gardens.jpg
Perdana Botanical Gardens
Aku menyeberang menuju sebuah ruang terbuka hijau yang terlihat cukup rindang dan sejuk dilihat dari luar. Tempat ini bernama Perdana Botanical Gardens. Aku masuk dan mengamati pemandangan di sekeliling kebun. Satu hal yang aku suka dari tempat ini adalah tersajinya sekilas informasi mengenai tumbuhan-tumbuhan yang berada disana sehingga paling tidak hal itu bisa sedikit menambah wawasan kita.
Playing-Ground.jpg
Playing Ground
Kebun ini bisa menjadi salah satu alternatif berlibur yang pas bagi kaum urban di akhir pekan setelah menjalani serangkaian aktivitas padat di hari kerja. Selain pepohonan yang rindang, ada juga tempat bermain anak, gazebo, dan danau buatan yang menambah kencantikan tata letak Perdana Botanical Gardens. Tak hanya itu saja, ketika aku berkunjung kesana, banyak juga sekolompok orang yang duduk lesehan di rumput-rumput hijau hanya untuk sekedar berkumpul dan berbincang satu sama lain.
Artificial-Pond.jpg
Artificial Pond
Puas menghirup udara segar disana aku menuju jembatan penyeberangan yang menghubungkan Perdana Botanical Gardens dan Muzium Negara Malaysia. Kurang afdhol rasanya jika kita berkunjung ke suatu tempat tapi tidak mengunjungi museumnya karena melalui museum itu lah, tempat yang kita kunjungi akan terelaborasikan dengan jelas. Itu hanya opini pribadiku sih hehehe.
Muzium-Negara-Malaysia.jpg
Muzium Negara Malaysia

Berbicara tentang Muzium Negara Malaysia, museum ini merepresentasikan Malaysia secara utuh. Ada 4 Galeri yang ada disana dengan masing-masing galeri menyajikan hal yang berbeda. Seperti kebanyakan museum lainnya, Galeri A menampilkan pembentukan awal alam semesta dan seisinya. Sesuatu yang berbeda mulai terlihat di Galeri B yang mempertontonkan zaman kerajaan di negara Malaysia. Negeri Jiran mempunyai persamaan nasib dengan negara Asia Tenggara lainnya yaitu sama-sama dijajah oleh bangsa Asing. Di Galeri C, pengunjung akan serasa dibawa oleh lorong waktu untuk menyelami masa kolonialisme di Malaysia. Hingga akhirnya di Galeri D, pengunjung akan melihat perjuangan rakyat Malaysia dalam memperoleh kemerdekaannya dari Britania Raya. Tak hanya itu saja, di Galeri D juga menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi pasca kemerdekaan Malaysia.
Gallery-Muzium.jpg
Gallery Muzium
Aku menghabiskan waktu 3 jam di museum mengikuti free tour guide yang disediakan oleh pihak museum dan dipandu oleh seorang laki-laki paruh baya yang berusia mungkin kisaran 60 tahun. Satu hal yang aku salut dari sosok beliau adalah sikap profesionalismenya. Ketika beliau menjelaskan apa yang ada di museum selama 3 jam tersebut, tanpa sekalipun tampak kelelahan yang terpancar dari raut muka beliau. Aku pun juga tak melihat beliau meneguk minuman, padahal kalau dipikir-pikir capek dan haus juga ngomong selama 3 jam nonstop. Semoga engkau sehat selalu Pak!
Muzium-Guide.jpg
Muzium Guide
Malaysia menjadi salah satu destinasi wisata halal yang tersohor di kawasan Asia. Hal itu didukung dengan fakta bahwa Islam menjadi agama mayoritas yang dianut oleh penduduk negeri Jiran. Tak hanya itu, saat berkunjung ke Kuala Lumpur, aku tak kesulitan untuk menunaikan ibadah sholat 5 waktu karena tersedianya masjid-masjid di setiap sudut kota termasuk salah satu di antaranya Masjid Negara Malaysia.
Bagian-Luar.jpg
Bagian Luar Masjid Negara Malaysia
Masjid ini merupakan salah satu masjid terbesar yang ada di Kuala Lumpur. Dibangun mulai tahun 1963 hingga 1965, masjid ini memiliki sederet fasilitas penunjang yang lengkap seperti tempat wudhu dan toilet yang bersih, ruang sholat utama, perpustakaan, dan bahkan di bagian belakang masjid ada makam para Perdana Menteri Malaysia yang sudah meninggal.
Serambi-Masjid.jpg
Serambi Masjid
Saat itu, hujan membasahi Kuala Lumpur yang memaksaku untuk berdiam di masjid dalam waktu cukup lama. Waktu yang ada aku sempatkan untuk mengabadikan setiap sudut masjid.
Ruang-Sholat.jpg
Ruang Sholat Utama Masjid
Tepat pukul 5 sore, Zajib menjemputku di Masjid Negara Malaysia. Kami akan mengunjungi Kuala Lumpur City Center (KLCC) atau orang mengenalnya dengan Petronas Twin Tower. Meskipun tempat ini terasa mainstream di kalangan para traveller, namun aku masih merasa harus mengunjunginya karena memang bangunan ini adalah ikon dari Malaysia khususnya Kuala Lumpur.
Petronas-Twin-Tower.jpg
Petronas Twin Tower
Saat malam hari, menara kembar itu terlihat megah dengan cahaya yang memancar di keseluruhan arsitekturnya. Tak hanya itu saja, taman air mancur yang berada di depan Mall Suria KLCC menjadi hiburan lain para wisatawan yang berkunjung kesana. Suasana malam itu sangat menenangkan, aku masih tak menyangka bisa melihat Menara Petronas dengan mata kepala sendiri. Alhamdulillah.
Colourful-Fountain-KLCC.jpg
Colourful Fountain KLCC
EXPLORE KUALA LUMPUR (DAY 2)
Seperti hari sebelumnya, aku kembali mengikuti Zajib untuk pergi ke kota. Pagi itu, aku sekaligus berpamitan dengannya karena malam hari nantinya aku akan bertolak ke Penang. Kami berpisah di Stasiun MRT Sri Raya. Terima kasih Zajib atas tumpangan selama 2 malam di rumahmu dan juga traktiran sarapan dan makan malam selama aku disana.
Zajib and Me
Hari kedua di Kuala Lumpur aku awali dengan menjemput Ruru, temanku dari Indonesia yang selanjutnya akan ikut denganku sampai Thailand. Setelah bertemu dengannya, kami langsung menuju ke Petronas Twin Tower (lagi). Entah mengapa, meskipun aku sudah kesana di malam harinya, aku masih penasaran pemandangan menara tersebut di siang hari. Ternyata, view menara ini di siang hari tak sebagus saat malam hari. Mungkin karena faktor cuaca mendung sih yang menyebabkan Menara Petronas terlihat sedikit pucat.
Masjid-Jamek.jpg
Masjid Jamek
Setelah dari sana, kami menuju ke destinasi lainnya yaitu Masjid Jamek. Di Masjid ini, ada satu hal yang menarik perhatianku yaitu adanya beberapa orang berjubah yang berada di lingkungan Masjid. Setelah bertanya ke petugas yang berjaga disana, ternyata mereka adalah turis non-muslim yang ingin berkunjung ke Masjid Jamek. Mengapa mereka memakai jubah?

Sudah menjadi rahasia umum kalau orang-orang barat sering mengenakan pakaian yang sedikit terbuka, baik itu laki-laki maupun perempuan. Karena Islam mengharuskan menutup aurat ketika berada di Masjid, maka turis laki-laki mengenakan sarung untuk menutup aurat sampai lutut dan perempuan mengenakan jubah yang menutup seluruh bagian tubuh kecuali muka. Persis seperti seorang muslim yang sedang beribadah di masjid.
Learning-Islam-at-Masjid-Jamek.jpg
Learning Islam at Masjid Jamek
Aku mendekat ke kerumunan orang berjubah yang sedang mendengarkan penjelasan petugas masjid. Tidak ada saling menyalahkan diantara mereka ketika saling bercakap tentang Islam. Mayoritas turis tersebut kepo tentang Allah SWT, Nabi Muhammad, dan kitab suci Al-Qur'an yang menjadi pegangan hidup umat Islam. Satu persatu pertanyaan dijawab oleh petugas dan mereka pun tampak antusias mendengarkan setiap detail penjelasan. Sungguh sikap open-minded yang patut diapresiasi.
Sultan-Abdul-Samad-Building.jpg
Sultan Abdul Samad Building
Bertolak dari Masjid Jamek, kami jalan kaki menuju Dataran Merdeka yang luas dengan latar belakang Bangunan Sultan Abdul Samad yang megah. Kami hanya mengambil beberapa foto saja disana sebelum hujan turun sangat deras yang membuat Kuala Lumpur menjadi sejuk. Berteduh dari hujan, kami mengunjungi Kuala Lumpur City Gallery yang berada di area Dataran Merdeka.
Merdeka-Square.jpg
Merdeka Square
Kuala Lumpur City Gallery ini lebih mirip seperti bangunan museum yang menceritakan seluk beluk tentang Kuala Lumpur dan sederet tempat ikonik disana. Kami masuk dari ruang satu ke ruang lain memperhatikan setiap uraian kalimat tentang Kuala Lumpur. Tempat ini menurutku tergolong must-visit places sih kalo kalian di KL. Jangan melulu tentang tempat wisatanya aja, tapi ketahui sejarahnya hehe.
KL-City-Gallery.jpg
KL City Gallery
KL-City-Gallery-(2).jpg
KL City Gallery (2)
MENUJU KE PENANG
Waktu mulai beranjak malam hari. KL City Gallery menjadi tempat terakhir yang kami kunjungi. Seberes ambil tas di hostel tempat Ruru menginap, kami bergegas menuju KL Sentral untuk naik KTM menuju TBS karena kami sudah booking bus menuju Penang jam 12 malam tepat.

Kami sampai di TBS 2 jam sebelum bus berangkat. Waktu yang ada, aku sempatkan untuk berkeliling mengagumi interior terminal bus megah di Kuala Lumpur ini. Aku perhatikan setiap detail bangunan, jauh berbeda daripada kebanyakan terminal bus di Indonesia. Pemesanan tiket dan boarding gate sudah terotomasi dengan baik sehingga sangat minimal sekali ada calo dan antrian penumpang. Fasilitas yang ada di TBS pun cukup lengkap mulai dari tempat makan, ATM Center, Mushola, Toilet, dan juga waiting lounge yang luas. Di post terpisah, aku akan secara khusus mengulas tentang TBS hehe.

Bus Billion Stars datang tepat waktu pukul 12 malam. Langsung kami mencari nomor tempat duduk dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga membuat tubuh nyaman untuk tidur. 5 jam kira-kira waktu tempuh dari Kuala Lumpur ke Penang. Sambil merebahkan tubuh di kursi bus, aku sambil membayangkan, kira-kira apa yang akan aku lakukan selama 3 hari 2 malam di Penang?

You Might Also Like

19 comments

  1. Seneng banget baca artikerlnya, rangkaian road trip asean 5 negara ya, Bang.
    Jadi keinspirasi kalau libur panjang, mau coba-coba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib a'in dicoba kalo ada libur panjang mbak. Lifetime memories :D

      Delete
  2. Kuala lumpur ituuu ga cuman menara Petronas aja yang menarik yaaaaa.

    Banyak tempat menarik ternyata. Bisa jadi referensi nih. Thanks for sharing :)

    ReplyDelete
  3. Woww bisa nieh gw rekomend ke temen2 bpj kalo nanya ke KL enaknya gimana .. Pas dan lengkap.. Gw dulu taunnya cuma petronas sama batucave doang jarang explore lainnya.

    Next trip bareng masae

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih omed, itung-itung nambah traffic kalo dipromosiin ente hehehe

      Delete
  4. Kebetulan banget neh, lagi nyari2 referensi wisata di KL. Udah gitu semakin yakin buat solo backpackering Asia... hahaha... foto dan ceritanya menarik banget mas, teratur dan alurnya ngalir banget kyk lagi baca cerpen dgn kisah nyata... Keren mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahaha,belum lah kalo dibandingin novel. Jauuh hehehe. Anyway, makasih atas pujiannya mbak. Jadi semakin semangat untuk menulis terus!

      Delete
  5. Wah bikin pengen ke KL, tulisannya enak banget kak mengaliiir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Realisasikan! Mudah dan murah kalo ke KL hehehe

      Delete
  6. Foto pertama yang di zebra cross sukaaaa... Yuk ah kapan-kapan ngetrip bareng, Liq

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha itu foto spontan aja pas nyebrang. Mereka mungkin ngliatinnya aneh ngapain ini orang foto-foto di zebra cross :D

      Siap mas estu. Kalau waktu pas dan memungkinkan hehehe

      Delete
  7. WAHH... pas banget mau ke KL
    nanti aku contek ya buat referensi wisata KL :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap! Referensi kecil-kecilan ini mbak hehehe. Explore KL ga cukup kalo cuma 2 hari, sebulan mungkin? hehe

      Delete
  8. ceritanya ngalir banget..suka deh bacanya. Banyak tempat-tempat yang disebutin disini belum pernah aku kunjungin jadi nambah informasi buat jalan-jalan ke KL nanti deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu hanya sebagian kecil kakaakk. Explore sendiri dan temukan tempat wisata lain, dijamin bakal balik lagi ke KL karena penasaran hoho

      Delete
  9. Wah suka baca tulisannya! Jadi nambah list destinasi nih kalo mau ke KL~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak. Sempatkan untuk explore KL sekali seumur hidup hehe

      Delete
  10. ngebantu banget nih..pas lagi mau ke Penang..thank you

    ReplyDelete