ASEAN Road Trip : Bangkok

September 18, 2019

Hat-Yai-Intersection.jpg
Hat Yai Intersection
Lingkungan yang asing, bahasa yang aneh, dan tulisan keriting yang tak dapat aku baca menjadi sederet faktor yang menyulitkanku ketika pertama kali melangkahkan kaki di negeri gajah putih, Thailand. Aku menggerutu dalam hati, mengapa aku berkunjung ke negeri ini, dan parahnya malah sempat terbersit hasrat untuk balik kanan saja ke Malaysia. Tapi.. seketika aku teringat bahwa tujuan akhir perjalananku masih berada 1.796 km lagi dari tempat aku berdiri saat itu di Hat Yai, Thailand Selatan menuju Ho Chi Minh City, Viet Nam.

TRANSIT 5 JAM DI HAT YAI
Terletak di Thailand bagian selatan, Hat Yai menjadi kota besar yang menjadi batas antara Thailand - Malaysia. Tidak ada sesuatu yang spesial di sini. Tetapi, kota ini sangat ramai oleh turis asing karena merupakan kota transit sementara bagi para traveller yang melakukan perjalanan darat dari Malaysia dan ingin menuju ke destinasi lain yang ada di Thailand seperti Phuket, Krabi, atau Bangkok. 

Hal tersebut berlaku pula kepada diriku. Berangkat dari Penang pukul 9 pagi, aku sampai di Hat Yai pukul 1 siang. Tidak ada bus langsung dari Penang ke Bangkok sehingga aku harus berganti moda transportasi disini. Sembari menunggu bus yang akan berangkat ke Bangkok pukul 6 sore nanti, aku menghubungi orang Indonesia yang sedang kuliah di Songkhla University, Hat Yai bernama Arul. Kami saling bertukar pikiran layaknya seorang kawan yang sudah lama tak jumpa meskipun kami belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya.
Arul and me
Asyik berbincang dengan Arul, akhirnya waktu yang ditunggu pun tiba. Aku segera bergegas menuju Terminal Hat Yai menemui temanku Ruru yang sudah menunggu sedari siang tadi. Aku naik bus Piya Rungrueng Tour yang telah aku pesan 1 hari sebelumnya melalui apps easybook dengan harga 788 Baht / Rp 390.000. Perjalanan selama 16 jam akan kami tempuh dan akan sampai di Terminal Bus di kota Bangkok keesokan harinya. Memang jika dilihat sekilas durasi perjalanan tersebut sangat lama, tapi karena kami naik bus malam sehingga waktu tersebut tidak terasa karena sebagian waktu perjalanan kami habiskan dengan tidur hehehe.
Night-Bus-to-Bangkok.jpg
Night Bus to Bangkok
EXPLORE BANGKOK (DAY 1)
Chatucak-Terminal-Bangkok.jpg
Chatucak Terminal Bangkok
Matahari bersinar sangat terik menyambut bus yang mulai memasuki wilayah Terminal Chatuchak, Bangkok. Terminal ini menjadi tempat pemberhentian terakhir bus ini. Keluar dari bus, aku dan Ruru dikagetkan dengan sekelompok orang yang menawarkan ojek motor ataupun Tuk Tuk. Berdasarkan referensi yang aku baca sebelumnya di internet, jangan pernah naik ojek/tuk tuk dari orang-orang tersebut karena mereka tahu kita turis maka akan dikenakan tarif yang melebihi tarif normal sehingga berakibat pada kantong jebol *ups. Aku berhasil menolak tawaran mereka dan mengajak Ruru sejenak menepi ke bangunan terminal untuk beristirahat setelah perjalanan melelahkan dari Hat Yai.

Seraya memakan snack yang kami beli dari 7-11, aku mencari cara menuju daerah Ratchathewi. Disanalah tempat Ruru menginap dan kebetulan berada tidak jauh dari KBRI Bangkok dimana saudaraku ada yang bekerja disitu dan aku berencana untuk menemuinya. Moda transportasi yang kami pilih adalah sejenis skytrain yang dikenal dengan nama Bangkok Transit System (BTS).
Flower-Bloom.jpg
Flower Bloom in Queen Sirikit Park
Kami berjalan kaki menuju Stasiun Mo Chit dari Terminal Chatuchak yang berjarak kurang lebih 2 km menyeberangi kawasan hijau Queen Sirikit Park. Di taman itu, kami beberapa kali berhenti untuk mengambil gambar dan duduk sejenak di bangku taman, mengagumi betapa indah dan tertatanya taman ini ditambah hiasan kolam buatan dan tanaman berbunga.
Walk-path.jpg
Walk path in Queen Sirikit Park
Singkat cerita, hari pertama aku tidak berkunjung ke beberapa tempat wisata di Bangkok. Kegiatanku saat itu lebih kepada orientasi medan kota Bangkok yang terkenal dengan kemacetan lalu lintasnya. Aku berusaha menyesuaikan dengan segala kerumitan Bangkok mulai dari tulisan keriting, cara berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan melihat hal-hal baru disana yang menarik perhatianku.
Bus-in-Bangkok.jpg
Bus in Bangkok
Aku melompat dari satu bus ke bus lain tanpa tujuan yang jelas, pokoknya yang penting aku harus merasakan transportasi umum di Bangkok. Dan tahukah kamu apa yang terjadi? Aku nyasar gaes hahaha. Gimana nggak nyasar, tidak ada petunjuk yang jelas tentang rute bus karena semua tertulis dalam huruf Thailand. Orang-orang pun tak bisa menjawab ketika aku bertanya tentang rute bus dalam Bahasa Inggris. Tapi, aku tidak khawatir tersesat karena aku justru merasa inilah hal paling seru pada hari pertamaku di Bangkok.
Victory-Monument-Bangkok.jpg
Victory Monument Bangkok
Seperti di Malaysia, aku melakukan aktivitas people watch. Diam selama beberapa saat di suatu tempat tanpa melakukan aktivitas apapun, hanya melihat orang berlalu lalang dan memperhatikan mereka bercakap dengan bahasa yang sangat asing di telinga. Aku memilih untuk berdiam diri di sekitar area Victory Monument yang ramai orang berlalu lalang naik dan turun bus di sebuah halte kecil. Tak terasa, hari beranjak sore. Aku harus segera menuju Stasiun BTS Chit Lom untuk bertemu dengan Akhdur, orang lokal yang aku temui melalui Couchsurfing. Dialah yang akan menampungku selama 4 hari 3 malam di Bangkok.
Orang naik turun bus di halte Victory Monument
EXPLORE BANGKOK (DAY 2)
Mahakan-Fort.jpg
Mahakan Fort
Hari kedua, aku merencanakan untuk mengeksplorasi daerah kota lama Bangkok yang terkenal dengan Wat - Wat nya atau dalam bahasa Indonesia disebut Candi. Awalnya sempat aku bingung karena akan sepi jika hanya jalan berdua dengan Ruru. Aku iseng mengaktifkan fitur hangout couchsurfing hingga ada seseorang bernama Long dari Jerman yang menghubungi dan menawarkan diri untuk jalan bersama kami menjelajah setiap sudut di antara candi-candi Budha yang berdiri megah. Inilah orang asing yang telah aku spoiler di epilog artikel sebelumnya (Baca : ASEAN Road Trip : Penang)
Museum-King-Prajadhipok.jpg
Bangunan Museum King Prajadhipok
Sebelum bertemu Long, aku terlebih dahulu masuk ke Museum King Prajadhipok yang berada di seberang Mahakan Fort. Sebenarnya saat itu aku hanya penasaran saja bagaimana sih tampilan museum di Bangkok. Di museum ini tersaji secara lengkap biografi sang raja semasa kecil hingga berhasil menduduki tahta sebagai Raja Siam. Fyi, untuk masuk museum ini kita tidak dikenakan biaya alias gratis :D
Bagian-dalam-museum.jpg
Bagian dalam muesum
Keluar dari museum, Long terlihat sedang duduk di taman yang terletak di depan patung King Rama III. Aku mendekatinya dan langsung mengajaknya untuk melihat arsitektur dari setiap candi yang berada di sana. Pertama, kita menuju ke Wat Ratchanatdaram dan Loha Prasat yang berlokasi tak jauh dari museum sebelumnya. Lagi, tidak ada biaya yang dipungut untuk masuk ke dalam komplek candi. Loha Prasat lebih menarik perhatianku karena atapnya yang mengkilap berwarna keemasan. Amazing!
Wat-Ratchanatdaram.jpg
Wat Ratchanatdaram
Loha-Prasat.jpg
Loha Prasat
Seberes melihat candi pertama, kami menuju candi kedua yaitu Wat Saket (Golden Mount Temple). Nah, kalo 2 objek wisata sebelumnya gratis, di Golden Mount ini pengunjung dikenakan biaya sebesar 50 Baht sebagai tiket masuk. Bagus sih candi ini, mirip Boudhanath Temple Nepal.
Golden-Mount-Stairs.jpg
Tangga menuju Golden Mount Temple
Wat-Saket.jpg
Golden Mount Temple dari jauh
Puas memainkan lonceng di Golden Mount temple, kami menuju ke candi terjauh dari rencana perjalanan kami yaitu Wat Arun atau orang menjulukinya dengan Temple of Dawn. Karena lokasi Wat Arun yang berada di daratan yang berbeda dengan tempat kita berdiri, kita harus menyeberangi Sungai Chao Praya menggunakan kapal kayu yang telah disediakan dan membayar tiket sebesar 12 Baht untuk perjalanan pulang pergi.

Chao-Praya-Boat.jpg
Chao Praya Boat
Sesampainya disana, Ruru mengajakku untuk masuk ke dalam candinya, tapi saat itu aku merasa tidak perlu untuk masuk hingga ke dalam candinya karena menurutku cukup untuk melihat keindahan konstruksinya dari luar. Wow!
Wat-Arun.jpg
Wat Arun
Dari Wat Arun, kita balik lagi menyeberang sungai Chao Praya untuk menyambangi 2 destinasi terakhir hari itu yaitu Grand Palace dan Wat Pho. Nah, di 2 tempat inilah kita akan dikenakan biaya yang cukup lumayan untuk masuk ke dalam komplek candinya. Kebetulan saat itu juga aku dan Long mengenakan celana pendek dimana hal itu tidak diperbolehkan dengan alasan penghormatan kepada pinpinan Grand Palace / leluhur yang ada di Wat Pho. Alhasil, aku dan Long hanya menunggu Ruru mengambil foto dan berkeliling di tempat itu. Tapi meskipun begitu, aku tidak kecewa kok karena dari luar saja pemandangannya udah ciamik banget, jadi tak perlu masuk ke dalam. Oiya, fyi biaya masuk ke Grand Palace adalah sebesar 500 Baht dan Wat Pho sebesar 200 Baht. Monggo bisa dipertimbangkan costnya hehehe

Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Aku harus buru-buru kembali ke daerah Chit Lom, tempat apartemen Akhdur, dikarenakan dia akan mengajakku untuk makan malam bersama. Aku kemudian berpisah dengan Ruru dan Long sambil berucap terima kasih kepada mereka berdua karena sudah menemaniku berkeliling seharian di komplek candi-candi di Bangkok.
Bangkok-Giant-Swing.jpg
Bangkok Giant Swing
Aku menutup cerita hari itu dengan makan bersama hostku, Akhdur, di kawasan Neon Night Market yang terletak tak jauh dari Chit Lom. Tempat ini lebih mirip seperti pasar malam sih kalau di Indonesia yang menjajakan sederet street food dengan beragam macam harga. Kami menyantap ikan laut, sayuran, dan nasi dan ditutup dengan seduhan air kelapa yang segar. Aku tidak mengharapkan ini terjadi, tapi bill makan semua ditanggung oleh Akhdur. Terima kasih Akhdur, semoga selalu dilimpahkan rezeki. Aamiin.
Neon-Night-Market.jpg
Neon Night Market
 EXPLORE BANGKOK (DAY 3)
Taman sebelum Terminal Chatucak
Hari ke 3 di Bangkok, aku sudah janjian dengan Long pergi bersama ke Terminal Chatuchak untuk memesan tiket bus dengan relasi keberangkatan Bangkok - Siem Reap keesokan harinya. Bus yang kami pilih adalah Transport Co yang dipatok dengan harga 750 Baht atau sekitar Rp 350.000. Seusai memesan tiket bus, kami berpisah. Long akan bertemu dengan kawannya, aku akan mengunjungi museum yang ada di Bangkok.
BACC. Credit photo : hotels.com
Aku naik BTS dari Stasiun Mo Chit, turun di Stasiun National Stadium dan berjalan sebentar hingga sampailah di sebuah bangunan besar bernama Bangkok Art and Cultural Center (BACC). Aku mulai masuk ke dalam bangunan dan melihat-lihat sekeliling bangunan museum. Tempat ini menyuguhkan berbagai karya seni dari seniman-seniman legendaris yang berasal dari Thailand. Karya seni yang ditampilkan beragam jenisnya ada tulisan tangan, lukisan kanvas, fotografi, dan masih banyak lagi. Mengenai museum ini, aku buatkan post terpisah yang menampilkan sebagian kecil karya yang terpampang di Bangkok Art and Culture Centre. (Baca : [Gallery] Bangkok Art and Culture Centre)

3 jam aku berkeliling museum hingga tak sadar bahwa hari mulai beranjak sore. Aku mengecek ponselku yang berdering. Ada sebuah pesan masuk dari Ann, orang lokal yang aku hubungi sehari sebelumnya melalui couchsurfing dan mengajaknya untuk sekedar hangout di area downtown. Kami berjumpa di Terminal 21 Mall yang berada di daerah Asok. Tak banyak yang kami lakukan saat itu, hanya sekedar makan malam dan saling bertukar cerita mengenai pengalaman backpacking masing-masing. Aku mengajak Ann untuk bertemu karena aku lihat di profilnya bahwa dia pernah berkunjung ke Kinabalu dan aku tertarik untuk mendengar ceritanya hehe.
Terminal-21-Mall.jpg
Terminal 21 Mall
Pertemuan dengan Ann menjadi penutup perjalanan hari ketigaku di Bangkok. Sayang, saking asyiknya mengobrol dengan Ann hingga kami lupa untuk berfoto. Hari berikutnya, aku akan berpindah menuju Siem Reap, sebuah kota di negara Kamboja yang terkenal dengan keindahan bangunan Angkor Wat.

MENUJU KE SIEM REAP
Aku membuat janji dengan Long untuk bertemu di Terminal Chatuchak sekitar pukul 7 pagi karena bus akan berangkat tepat pukul 9 pagi. Namun sebelum itu, ucapan terima kasih aku sampaikan kepada Akhdur yang telah berbaik hati menampungku di apartemennya dan mentraktir makan. Sekali lagi, semoga kesehatan dan rezeki tercurahkan kepadamu :)
Thanks Akhdur!
Jarak dari Bangkok - Siem Reap yang terbentang sejauh 400 km akan menempuh waktu kurang lebih 7 jam termasuk clearance di perbatasan Thailand - Kamboja. Oiya, ada perbedaan arah laju kendaraan antara Thailand dan Kamboja. Jika di Thailand bus akan berjalan di sebelah kiri jalan, namun di Kamboja bus akan berpindah ke sebelah kanan. Namun, kita tidak berganti bus lho. Sedari awal bus dari Thailand, kemudi bus sudah menyesuaikan dengan keadaan di Kamboja sehingga sopir akan mengemudi di sebelah kiri menggunakan bus yang memiliki kemudi di sebelah kiri juga. Kereen.
Old Bus-to-Siem-Reap.jpg
Old Bus to Siem Reap
Merujuk kepada cerita-cerita traveller di internet yang pernah melakukan perjalanan darat serupa, perbatasan antara Thailand dan Kamboja menjadi spot yang menguji adrenalin karena terkenal akan aktivitas scamnya yang berulang kali terjadi disana. Scam tersebut dilakukan oleh sekelompok orang di Kamboja yang mendekati traveller untuk menawarkan jasa pengurusan visa namun dengan harga yang sangat mahal.
Poipet-Border.jpg

Tak hanya itu saja, wilayah border tersebut juga erat dengan praktik pungutan liar yang dilakukan oleh petugas di perbatasan kepada pengunjung yang mengantri untuk mendapatkan stempel masuk Kamboja. Memang betul, antrian memanjang terlihat dari bangunan kubus hijau yang difungsikan sebagai kantor imigrasi Kamboja. Setelah aku masuk ke antrian tersebut, ada beberapa orang yang seolah antri namun tiba-tiba dipanggil oleh seseorang dari luar antrian yang membawa sejumlah paspor. Usut punya usut, ternyata orang yang memanggil tersebut adalah orang suruhan dari sekelompok orang yang menitip paspor untuk distempel dari dalam kantor dengan menyetor sejumlah uang kepada jasa pengurus paspor tersebut. Hmm... masih ada ya praktik seperti itu di zaman modern ini.
Poipet-border-vibes.jpg
Poipet border vibes
Aku tak menghiraukan apa yang terjadi terkait praktik pungli tersebut karena yang terpenting aku mengikuti prosedur yang ada untuk masuk secara legal ke Kamboja. Chop! Suara stempel cap di pasporku terdengar nyaring sebagai tanda izin masuk ke Kamboja berhasil aku dapatkan. Angkor Wat, I'm coming!!

You Might Also Like

0 comments