Overland Trans Flores : Sayonara Flores!

February 28, 2019

Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. Begitupun perjalananku menyusuri Flores dari ujung timur di Maumere hingga berakhir di ujung barat Labuan Bajo. Meski perjalanan yang aku lakukan ini tidak sesuai dengan rencana awal, tapi setidaknya selalu ada hal baru yang aku dapatkan selama berkunjung dari satu kota ke kota lain di Pulau Flores. 
flores road trip pulau mules
Flores Road Trip View Pulau Mules
Penjelajahan Pulau Flores ini adalah road trip pertamaku di luar Pulau Jawa, tempat tinggalku, dimana aku mengalokasikan sebagian besar waktuku di perjalanan berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Sesuai namanya. kata flores yang berarti bunga merefleksikan setiap keindahan yang terkandung di dalamnya entah itu keindahan alam, kearifan lokal budayanya, ataupun keramahan penduduk yang seolah berkolaborasi untuk menautkan hati ini agar kembali lagi ke Flores di kemudian hari. 
salib tanjung kajuwulu
Berjalan menuju salib Tanjung Kajuwulu
Maumere, kota yang kental dengan nuansa agama nasrani menjadi persinggahan pertamaku ketika sampai di Pulau Flores. Tidak ada bayangan apapun ketika aku sampai disana karena sebenarnya kota tersebut hanya menjadi tempat mampir sementara sebelum melanjutkan ke destinasi utama Danau Kelimutu yang berada di Kabupaten Ende. Disana, aku terbius dengan keelokan danau tiga warna yang berada di ketinggian Gunung Kelimutu. 
danau kelimutu tiga warna
Danau Tiga Warna Kelimutu
Lalu, kaki ini melanjutkan langkah menuju Bajawa, ibu kota Kabupaten Ngada yang diselimuti udara sejuk khas pegunungan seperti di kampung halamanku di Magelang. Namun, aku tak menyangka kalau udara pagi di Bajawa bisa sedingin itu, menembus selimut yang aku balutkan di tubuhku. Udara dingin juga yang menutupi setiap jengkal rumah di Desa Adat Bena sehingga hanya terlihat pemandangan kabut putih ketika aku berkunjung kesana.
kabut desa adat bena
Kabut Desa Adat Bena
Tidak jauh beda dengan Bajawa, hawa dingin juga menyambutku ketika datang pertama kali di Ruteng. Namun, keadaan inilah yang sesungguhnya aku suka karena udara panas sangat membuat tidak nyaman tubuh karena terus berkeringat. Ruteng adalah gerbang yang mengarah ke Desa Wae Rebo yang menjadi situs warisan dunia UNESCO. Di sana, aku merasakan sensasi menginap di Mbaru Niang, rumah tradisional masyarakat Wae Rebo yang terletak di elevasi 1200 mdpl.
desa wae rebo
Wae Rebo Village
Pengembaraanku berakhir di  Labuan Bajo. Rencana sailing 3 hari 2 malam di sana harus pupus seketika saat aku mendapatkan kabar dari rumah bahwa ada anggota keluarga yang masuk rumah sakit. Apalah artinya jika aku tetap nekat berangkat mengeksplorasi keindahan Pulau Komodo jika nun jauh disana keluarga sedang tertimpa musibah. Aku pulang ke Jakarta dengan membawa rasa penasaran akan keindahan gugusan kepulauan di Labuan Bajo.

Satu hal yang aku paling ingat tentang Flores adalah keramahan penduduknya. Berulang kali ketika aku berjumpa orang asing di sana, pasti paling tidak selalu ada suguhan yang diberikan kepadaku dalam bentuk makanan seperti kopi khas Flores, jagung, dan makanan kecil berupa jajanan pasar. Mungkin mereka iba kali ya melihatku dari Jakarta berjalan sendirian di jalanan Flores hehehe. 
kearifan lokal flores
Local Wisdom of Flores
Aku sangat berterima kasih kepada orang-orang lokal yang telah membantu melepas rasa penasaran akan keindahan setiap jengkal Pulau Flores. Orang baik di Flores membantuku dalam menemukan arah menuju suatu tempat yang aku inginkan. Hal lainnya adalah meskipun terkesan basa-basi, tapi pertanyaan yang terlontar dari mereka ketika aku berjalan sendirian membawa tas ransel besar, cukup membuatku tenang karena mengetahui orang Flores adalah orang yang ramah terhadap orang asing yang baru datang ke wilayahnya.
local interaction in wae rebo
No caption needed
Tanpa mereka, petualanganku selama di Flores mungkin tidak akan bermakna dan mengesankan seperti ini. Semacam berjanji kepada diri sendiri, suatu saat nanti, aku ingin kembali ke jalanan Flores dan membandingkan apakah keadaan disana masih sama dengan kunjunganku sebelumnya. Berbekal pengalaman selama kurang lebih seminggu berada di jalanan Flores, aku mengakui bahwa bumi Indonesia ini sangat mempesona, dan pesona itu terpancar sangat nyata dari sebuah pulau bernama Flores.

You Might Also Like

0 comments