Overland Trans Flores (Day 2) : Maumere - Moni

February 18, 2019

Perjalanan Overland Trans Flores memasuki hari kedua, setelah hari pertama yang melelahkan mengitari Kota Maumere (Baca : Overland Trans Flores (Day 1) : Maumere). Kami sempat bingung menentukan destinasi selanjutnya karena banyaknya pilihan lokasi wisata di Maumere yang belum dikunjungi sedangkan waktu yang kami punya sangat terbatas. Travel ke Moni Kelimutu akan menjemput kami jam 1 siang di lobby Hotel Permata Sari.

Oiya, di permulaan perjalanan kami menyusuri Flores ini, Dobi kehilangan handphone kecilnya yang entah hilang di pesawat, taksi, atau di suatu tempat yang bahkan Dobi sendiri nggak bisa mengingatnya kembali, jadi kami pergi dulu ke Graha Telkomsel Maumere untuk mengurus penggantian SIM Card. 

Selesai pengurusan di Graha Telkomsel, kami memutuskan untuk menuju Tanjung Kajuwulu atas rekomendasi Bapak Polce karena disana katanya pemandangannya sangat indah dan memanjakan mata. Baiklah, kami segera memanaskan motor untuk menuju kesana. Jalanan yang kami lalui overall mulus dan sangat sepi. Tapi kita jangan terlena, kurang lebih 5 Km sebelum sampai di lokasi, ada 2 jembatan yang menghubungkan jalan, putus diterjang banjir bandang kata warga setempat. Kami memperlambat laju motor saat sampai di titik jembatan itu karena kendaraan akan melewati jembatan darurat yang dibuat oleh warga setempat untuk menjaga akses agar tetap tersambung. Huh, benar-benar memacu adrenalinku.
jalan rusak di maumere
Jalan Rusak di Maumere
Dengan waktu tempuh selama 45 menit, akhirnya sampai juga di lokasi Tanjung yang berjarak 34 Km ke arah barat dari Kota Maumere. Awalnya kami sempat ragu karena tidak ada papan penunjuk wisata ke Tanjung Kajuwulu, tapi Bapak Polce bilang kalau di sebelah kiri jalan kita menemui tangga menuju ke atas Bukit, maka disitulah spot terbaik untuk menikmati pemandangan Tanjung Kajuwulu. Kami memarkirkan kendaraan di pinggir jalan tepat sebelum pintu masuk. Disitu ada warga lokal yang akan menjaga motor kita sekaligus memungut retribusi wisata sebesar Rp 10.000/orang.
tangga bukit kajuwulu
Jalan Menuju Puncak Bukit Kajuwulu
Dari bawah, salib putih terlihat sebagai titik tertinggi Bukit Kajuwulu. Kita akan meniti tangga yang telah tersusun rapi untuk menuju puncak itu. Aku nggak menghitung secara pasti berapa jumlah anak tangga yang aku lewati, tapi aku yakin lebih dari 100 anak tangga yang kami pijak karena aku merasakan capek yang luar biasa broo dan kebetulan banget cuaca di Maumere lagi panas-panasnya hahaha. Anggap aja pemanasan deh sebelum mendaki di Wae Rebo nantinya (:
salib putih kajuwulu
Salib Putih Kajuwulu
Di puncak bukit ini, mataku benar-benar dimanjakan dengan keelokan landscape ciptaan Allah yang tersaji secara sempurna. Sejauh mata memandang, perbukitan dan laut Flores bagian utara menjadi suguhan yang istimewa. Cekungan perairan Laut Flores Utara yang menjorok ke daratan mengingatkanku pada pemandangan Pulau Padar di Labuan Bajo. Coba deh lihat foto di bawah ini.
cekungan tanjung kajuwulu
Cekungan Tanjung Kajuwulu
Aku membayangkan seandainya aku mempunyai waktu lebih lama di sini, mungkin aku memilih untuk bermalam di tenda dengan atap langit yang bertaburan bintang hahaha. Tapi, aku harus memupus khayalanku karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.15, itu tandanya aku harus segera kembali ke Hotel untuk berkemas-kemas sebelum travel ke Moni menjemput kami di hotel.

landscape perbukitan kajuwulu
Landscape Perbukitan Kajuwulu
Sungkat cerita, jam 1 siang travel kami datang. Jangan salah sangka ya, sebutan travel di Flores ini menggunakan kendaraan pribadi warga lokal, bisa APV, Innova, Avanza, atau yang lainnya asal bisa muat 6-7 orang sekali jalan. Nah, hal kurang menyenangkan terjadi ke aku dan Dobi. Bapak Polce bilang kalau travel dari Maumere-Moni dipatok tarif Rp 100.000. Namun, di tengah jalan sopir travel berganti dan dia meminta uang Rp 125.000 ke aku dan Dobi. Mindset tentang Flores dengan orang-orang yang seram masih melekat di benakku, jadi aku kasih saja lah daripada ribut kan. Okey, pengalaman kurang menyenangkan kedua setelah ditodong Taksi Bandara hahaha.

Durasi perjalanan dari Maumere ke Moni memakan waktu 2-3 jam. Aku dan Dobi langsung diantarkan menuju penginapan di Moni bernama Christin Lodge. Begitu sampai disana, aku disambut oleh pemilik homestay bernama Pak Sevi. Selain penginapan, beliau menawarkan diri untuk mengantarkan kami ke Danau Kelimutu keesokan harinya sekaligus sampai di Ende dengan tarif Rp 700.000. Woops, aku kaget dong karena nominal segitu melebihi budget harian yang telah aku tetapkan. Setelah tawar menawar yang alot, kami cuma bisa menawar jadi seharga Rp 600.000 dibagi 2 dengan Dobi dengan rincian Penginapan, Transport ke Kelimutu, dan Transport ke Ende. Ya meskipun itungannya masih mahal, tapi sedikit berkurang lah daripada 700 ribu to? hehe 

Oiya, disini aku akan memberi tips bagi yang ingin berwisata ke Kelimutu. Sebelum kesana, lakukan riset terlebih dahulu tentang harga penginapan, persewaan motor, dan moda transportasi untuk berpindah kota agar jangan sampai tertodong seperti aku. Sebelumnya aku mendapat tips dari seniorku kalau kita harus berhati-hati saat di Moni. Penduduk disana kasarannya sudah tahu soal uang. Meskipun pada dasarnya ketika di Moni warga sekitar seperti menawari untuk menginap di rumahnya tapi jangan terjebak gaes. Menginap di rumahnya itu berarti bayar wkwk. Penduduk Moni juga seperti kepo kalau ada orang baru yang lewat di lingkungannya, seperti aku yang dipelototin oleh warga disana karena kelihatan banget aku membawa tas ransel yang besar di punggung. Tapi tenang, mereka cuma melotot saja, nggak ngapa-ngapain. Amaaann hehehe

Sore itu aku habiskan dengan berjalan-jalan di sekitar Moni dan instingku menuntunku untuk mengikuti suara air terjun yang terdengar dari pinggir jalan utama Moni. Benar ternyata, tidak jauh dari situ aku sedikit turun ke bawah, masuk ke tengah hutan ada air terjun yang lumayan deras mengalir. Suara air adalah suara favoritku. Menenangkan dan gak pernah bosan aku mendengarnya.
air terjun murundao
Air Terjun Murundao
Air terjun itu bernama Murundao. Disana, aku bertemu dengan Kak Sila, orang asli Ende yang berencana mendaki Kelimutu juga. Sembari makan bakso, kami saling bertukar pikiran mengenai pengalaman perjalanan kami masing-masing. Kak Sila ini orangnya expert banget di dunia travelling, pengalamannya udah banyak banget, mulai dari hitchhiking, travelling keliling Amerika Serikat, dan masih banyak lagi. Terima kasih kak sharing pengalamannya, semoga aku bisa mengikuti jejaknya huehehe.

Menjelang malam hari, udara di Moni semakin dingin dan berkabut. Aku dan Kak Sila berpisah menuju penginapan masing-masing, bersiap bangun subuh keesokan harinya untuk mencapai Puncak Kelimutu sebelum fajar menampakkan sinarnya.

Damage Cost (2 orang)
A. Hotel Permata Sari : Rp 120.000
B. Sewa Motor : Rp 75.000
C. Tiket Masuk Tanjung Kajuwulu : Rp 20.000
D. Bensin : Rp 20.000
E. Travel ke Moni, Kelimutu : Rp 250.000
F.  Paket Penginapan Kelimutu dan Keliling Ende : Rp 600.000
TOTAL : Rp 1.085.000

You Might Also Like

0 comments