Seru! Menjelajah Pulau Samosir Seorang Diri (Part 1)

November 25, 2018


Pagi itu, udara dingin Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara seolah berkonspirasi untuk membuatku malas beranjak dari tempat tidurku. Tapi, aku segera tersadar dan ingat bahwa aku jauh-jauh datang ke Sumatera Utara bukan untuk tidur, melainkan untuk mengeksplorasi keindahan alamnya.

Setelah berkemas, aku bergegas menemui Johanes untuk mohon izin pamit melanjutkan perjalanan ke tujuan utamaku yaitu ke Pulau Samosir. Ternyata, Johannes telah menungguku di luar, mencari angkutan untuk mengantarkanku menuju ke Pelabuhan Ajibata. Akhirnya, angkutan yang ditunggu pun datang. Aku berpamitan pada Johannes dan mengucapkan terima kasih kepadanya karena sehari sebelumnya aku telah mendapatkan spoiler tentang segala hal tentang budaya Batak. Ceritanya ada di (Baca : Berbaur dengan Warga Lokal di Danau Toba)

"Pelabuhan!" Aku berteriak kepada sopir angkutan tanda bahwa aku ingin berhenti di persimpangan jalan menuju Pelabuhan Ajibata, pelabuhan yang melayani penyeberangan ke Pulau Samosir. Aku terkesima dengan pemandangan Danau Toba dari pinggir jalan tempat aku berhenti. Lalu, aku mendekat ke tepi danau untuk sejenak merasakan udara sejuk yang menyelimuti Danau Toba.
Pelabuhan Ajibata terletak sekitar 6 km dari tempat angkutan tadi memberhentikanku di persimpangan. Jadi, aku masih harus mencari angkutan lagi yang menuju kesana. Ada beberapa angkutan yang sudah standby di pinggir jalan untuk mengantar kita ke Pelabuhan Ajibata. Jangan lupa siapkan uang Rp. 5.000 saja.

Hari 1 Explore Danau Toba

1. Penyeberangan dari Pelabuhan Ajibata - Pelabuhan Tomok Samosir.
penyeberangan menuju dermaga tomok
Suasana Dalam Kapal Menuju Tomok
Aku berjalan mengikuti kemana kerumunan orang melangkah untuk mengetahui dimana aku harus membeli tiket kapal. Harga tiketnya murah gaes, per orang hanya dibanderol seharga Rp 8.000. Saat itu, jumlah penumpang di kapal tidak terlalu ramai, hanya ada sekitar puluhan orang dan belasan kendaraan bermotor yang dibawa dari Ajibata - Tomok. Aku mencoba menikmati syahdunya udara sejuk pagi hari di Danau Toba sambil bercakap-cakap dengan penduduk lokal.

menyeberangi danau toba
Ibu yang Membawa Dagangan ke Tomok
2. Pelabuhan Tomok Samosir
Setelah mengarungi Danau Toba selama kurang lebih 60 menit, sampailah aku di Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir. Nuansa Batak kental terasa disini terutama dari logat orang-orang yang bercakap dalam Bahasa Batak yang sama sekali aku nggak paham hahaha.

Tampak sekali perbedaan antara orang asli Batak dan wisatawan. Begitu aku sampai di Pelabuhan Tomok sudah ada beberapa orang dengan becak motornya yang menawarkanku untuk berkeliling Pulau Samosir. Awalnya aku bermaksud untuk menyewa motor, tapi karena saat itu cuaca mendung dan bakalan repot kalau hujan, aku pikir boleh juga rental becak motor + Driver yang akan mengantarku berkeliling seharian ini. Setelah nego harga, tersepakatilah angka Rp 300.000 untuk berkeliling Samosir sepuasnya. Tapi.. tidak seindah itu ferguso. Ikuti terus cerita di bawah ya!
becak motor danau toba
Becak Motor Danau Toba

3. Mengenal Sejarah Batak di Museum Batak Tomok
Pergi ke suatu daerah alangkah lebih afdholnya jika kita mengenal seluk beluk daerah itu terlebih dahulu. Aku meminta Bapak Nauli sang driver untuk mengantarku ke Museum Batak. Letak museum ini berada tidak jauh dari Pelabuhan Tomok. Aku yakin semua orang tahu pasti letak museum ini jika ada seseorang yang bertanya
koleksi museum batak tomok
Koleksi Museum Batak (1)
Museum Batak dibangun dengan konsep menyerupai Rumah Bolon yaitu rumah tradisional Batak. Memasuki bagian dalam museum di sini, kita akan belajar tentang sejarah suku Batak dari barang-barang koleksi yang ada di Museum Batak Tomok. Ada spot foto juga bagi para wisatawan yang menginginkan untuk berpose menggunakan kain ulos Batak. Siapkan uang lebih ya buat foto dengan kain ulos hehe. Oiya, harga tiket masuk Museum Batak dipatok Rp. 10.000/orang.

museum batak tomok
Koleksi Museum Batak (2)
4. Napak Tilas Pengadilan Masa Lampau di Batu Kursi Raja Siallagan
Satu diantara objek wisata yang menurutku unik di Pulau Samosir adalah Batu Kursi Raja Siallagan yang berada di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Objek wisata yang ada disini adalah batu kursi yang berbentuk menyerupai kursi-kursi dari batu yang dipahat mengelilingi meja yang terbuat dari batu.

Batu kursi ini digunakan sebagai batu persidangan untuk mengadili para pelaku kejahatan atau pelanggar hukum adat. Di tempat ini, para pemuka adat mengadakan rapat untuk menentukan hukuman apa yang setimpal bagi pelaku. Jika kejahatannya dirasa kecil, maka pelaku hanya akan diberikan sangsi berupa hukuman pasung. Namun, jika kejahatannya tergolong besar maka pelaku akan dijatuhi hukuman pancung alias potong kepala. Mengerikan bukan?
batu kursi persidangan
Batu Kursi Persidangan
5. Mampir Sebentar ke Taman Legenda Danau Toba
Aku dan Pak Nauli memutuskan untuk berteduh di Taman Legenda Danau Toba karena hujan gerimis mulai mengguyur Pulau Samosir. Sambil berteduh, aku bertanya kepada penjaga di tempat ini tentang mengapa tempat ini disebut sebagai Taman Legenda Danau Toba?

Taman ini sengaja dibuat sebagai objek wisata untuk merefleksikan tentang terbentuknya Danau Toba. Legenda Danau Toba mempunyai background cerita bahwa ada seorang pemuda yang memancing ikan emas yang sangat indah dan bisa menjelma menjadi seorang wanita cantik yang kemudian dinikahinya dengan syarat bahwa jangan sampai identitas istrinya sebagai jelmaan seekor ikan terbongkar. Namun, sang anak laki-laki dari pasangan tersebut melanggar perjanjian itu.

Istri dan anak tersebut menghilang secara misterius. Di tanah bekas pijakan mereka menyemburlah mata air. Air yang mengalir dari mata air tersebut makin lama makin membesar sehingga menjadi sebuah danau yang sangat luas dan diberi nama Danau Toba.
taman legenda danau toba
Taman Legenda Danau Toba
6. Melihat Eksotisme Danau Toba dari Bukit Holbung
Sejak dari Jakarta, aku penasaran dengan keindahan panorama Bukit Holbung yang sangat hijau dan menyerupai Bukit Teletubbies. Lokasi Bukit Holbung ini agak jauh dari pusat Kabupaten Samosir, bahkan ketika aku lihat Google Maps, perjalanan ke Bukit Holbung ini mengelilingi setengah Pulau Samosir. Jauh memang, tapi pemandangan sepanjang perjalanan menuju kesana tidak membosankan sama sekali.

perjalanan menuju bukit holbung
Perjalanan Menuju Bukit Holbung




Sesampainya di Bukit Holbung, aku mempersiapkan uang sebesar Rp 10.000 sebagai tiket masuk tempat wisata. Spot terbaik untuk menikmati pemandangan Bukit Holbung mengharuskan kita untuk mendaki sekitar 15 menit dari loket tiket. Tak apalah, demi sebuah konten apapun kulakukan hahaha.
danau toba bukit holbung
Danau Toba dari Bukit Holbung
Titik tertinggi Bukit Holbung berada di bukit ketujuh. Tapi, aku sudah lelah dan menyerah di Bukit Keempat hehe. Tidak masalah pikirku karena pemandangan dari sini pun sudah cukup cantik, serasa berada di Swiss karena sejauh mata memandang hanya hamparan pemandangan bukit hijau yang memanjakan mata. Masya Allah.
bukit teletubbies holbung
Bukit Teletubbies Holbung
7. Sebenernya aku pengen mampir ke Tele dan Efrata, tapi...
Disinilah aku mulai merasa bahwa Pak Nauli mengingkari janjinya. Awal mula kami membuat kesepakatan di Pelabuhan Tomok bahwa dengan tarif sebesar Rp 300.000 itu, aku bisa bebas menentukan tempat wisata yang ingin aku kunjungi seharian di Pulau Samosir. Tapi, pas aku lihat ada plang Air Terjun Efrata, Pak Nauli enggan untuk mengantarku kesana dengan alasan jalan menuju air terjun jelek dan susah dilalui oleh becak motornya. Baiklah jika memang begitu..

Lantas, ketika ada papan penunjuk jalan menuju Menara Pandang Tele, aku kembali meminta Pak Nauli untuk menuju kesana. Tapi, dia kembali menolak permintaanku dengan alasan bahwa itu tidak searah kita pulang ke penginapan di Tuk Tuk. Disini aku mulai kesal dengannya karena berulang kali menolak permintaanku. Tapi.. aku sadar bahwa saat itu aku berada di kampung orang Batak yang secara tidak langsung mengharuskanku untuk menjaga sikap daripada terjadi apa-apa denganku nantinya. Jadilah aku sepanjang perjalanan pulang ke Tuk Tuk hanya diam tanpa mengajak Pak Nauli ngobrol seperti sebelumnya karena disitu aku diam sambil menahan emosi.

Ya beginilah dukanya solo travelling, ketika kamu literally sendirian dan berada dalam situasi yang tidak menyenangkan, kamu tidak akan bisa berbuat banyak. Tapi, cukup sampai disitu saja. Pemandangan sepanjang perjalanan di Danau Toba berhasil melunturkan rasa kesalku pada Pak Nauli. Sesampainya di Tuk Tuk, aku memberi Pak Nauli uang Rp 300.000 sebagai ongkos perjalanan seharian ini karena bagaimanapun juga, becak motornya telah melindungiku saat hujan deras mengguyur Pulau Samosir. Terima kasih pak.

8. Menikmati Suasana Tuk-Tuk Sore Hari
Setibanya di Tuk Tuk, aku langsung menuju ke penginapan yang berada di Tuk Tuk View Inn. Penginapan ini dibanderol seharga Rp 95.000. Murah memang tapi agak mengerikan karena sepi banget dan disitu cuma ada aku yang menginap. Tapi it's OK lah, karena pikirku cuma buat tidur satu malam saja toh pemandangan Danau Toba dari serambi penginapan ini cukup menghibur mata.
tuk tuk danau toba
Sore di Tuk Tuk
Aku tidak langsung beristirahat di kamar. Aku kembali memacu langkah kaki untuk menikmati suasana sore di Tuk Tuk berlatar belakang Danau Toba sembari mengamati penduduk lokal yang menjalankan aktivitas sehari-harinya. Soreku sangat damai disini, diselimuti udara sejuk dan jauh dari kebisingan. Rasanya enggan bagiku untuk kembali berhadapan dengan suasana riuh Kota Jakarta. Hmm..

kapal danau toba
Kapal Danau Toba

You Might Also Like

0 comments