Petualanganku di Tanah Rencong (Part II : Aceh - end)

June 12, 2018

Melanjutkan perjalanan dari (Baca : Part I Sabang), setelah menyeberang selama 2 jam, tibalah kami di Banda Aceh. Tidak banyak waktu yang kami punya, kurang lebih sekitar 5 jam karena pukul 5 sore, kami sudah ada jadwal penerbangan dari Aceh ke Medan. Waktu 5 jam ini harus kami manfaatkan dengan maksimal, tidak boleh ada celah sedikitpun untuk beristirahat.

Setibanya di Ulee Lheue, kami langsung memacu motor menuju destinasi pertama yaitu PLTD Apung. Jadi dulunya, ada kapal besar dengan bobot 2600 Ton yang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue. Di dalam kapal terdapat mesin pembangkit listrik yang mempunyai kekuatan daya mencapai 10,5 Megawatt. Lalu, tsunami berhasil menyeret kapal ke tengah kota sejauh 2,4 Km dari bibir pantai. Ukuran kapal ini sebenarnya sangat besar dan membuatku berpikir sejenak, bagaimana mungkin gelombang air bisa memindahkan kapal sejauh itu dari tempat sandarnya. Namun, inilah kenyataannya, kapal besar berada di tengah pemukiman penduduk. Maha Besar Allah dengan segala kehendaknya.
badan kapal pltd apung
Badan kapal
Aku naik ke dek atas kapal mengikuti guide lokal yang membantu menjelaskan tentang sejarah terbentuknya PLTD Apung. Dari atas kapal, terdapat teropong yang dapat digunakan oleh pengunjung tempat wisata untuk melihat dengan jelas pemandangan kota Banda Aceh dari ketinggian kapal. Dalam hati, aku masih nggak percaya kalau pemukiman padat penduduk dulunya bisa dilewati oleh kapal ini.

Lalu, aku masuk ke bagian dalam kapal. Entah bagaimana mendeskripsikannya, yang pasti bagian dalam kapal ini sudah tidak mirip lagi seperti kapal pada umumnya dan disulap layaknya museum yang menampilkan berbagai gambar untuk dinikmati wisatawan. Terdapat video rekaman warga saat hari H terjadinya tsunami, gambar kota Banda Aceh sebelum dan sesudah tsunami, infografis bantuan solidaritas untuk Aceh dari negara-negara sahabat di seluruh dunia, dan masih banyak lagi.

infografis pltd apung
1 contoh infografis di PLTD Apung
Setelah guide lokal menjelaskan semua tentang tempat ini, kami sedikit berbincang bincang dengan beliau yang aku bahkan lupa untuk menanyakan namanya. Fakta menarik kami dapatkan darinya, bahwa tour guide PLTD Apung semuanya adalah saksi hidup tsunami Aceh yang kemudian diangkat menjadi pegawai disini. Beliau sendiri sudah belasan tahun mengabdikan dirinya menjadi pemandu wisata. Aku salut atas pengabdian beliau.
guide pltd apung
Guide yang mendampingi kami
Puas berkunjung ke PLTD Apung, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Tsunami Aceh. Berbeda dengan PLTD Apung yang terbentuk karena bencana, museum ini memang sengaja dibuat untuk menyimpan semua kenangan yang lebih detail duka masyarakat Aceh oleh tsunami. Tentang museum ini, aku bahas di post terpisah (Baca : Museum Tsunami Aceh).

masjid baiturrahman aceh
Masjid Baiturrahman Banda Aceh
Waktu kami semakin mepet. Masih ada 1 destinasi wajib yang harus kami kunjungi, apalagi kalau bukan Masjid Raya Baiturrahman. Sebagaimana kita tahu, masjid ini digunakan oleh penduduk sebagai tempat berlindung dikala tsunami menerjang. Dan Masjid Baiturrahman atas kuasa Allah menjadi satu-satunya bangunan yang masih kokoh berdiri.

payung masjid baiturrahman
Payung-payung di serambi masjid
14 Tahun telah berlalu semenjak kejadian itu, dan kini Masjid Baiturrahman telah bersolek menjadi seperti yang khalayak bilang, serambi Mekah. Masjid ini sangat cantik. Tinggi, besar, dan ikonik. Di bagian luar masjid, terdapat serambi yang cukup luas dengan dilengkapi payung payung sebagai tempat berteduh disaat panas. Aku nggak menghitung berapa jumlahnya, yang pasti 1 payung bisa meneduhkan belasan orang di bawahnya. Ada 1 menara yang menjulang tinggi di bagian depan serambi. 
menara masjid baiturrahman
Menara masjid
Masuk ke dalam masjid, pilar pilar menopang kokoh berdirinya masjid ini. Lantai keramik yang dingin, membuat hawa badan panas di luar, seketika berubah menjadi sejuk di dalam. Tak pelak, banyak masyarakat yang beristirahat siang di dalam masjid saat aku berkunjung kessna.

Karena waktu itu pas bulan Ramadhan, masyarakat yang datang ke Masjid Baiturrahman cukup banyak, terlebih lagi saat 10 hari terakhir Ramadhan, warga menempati hampir setiap jengkal bagian dalam masjid ini untuk beriktikaf. Info dari warga yang aku ajak ngobrol disana, kalau pas Ramadhan, takmir Masjid Baiturrahman secara khusus mengundang imam besar dari Timur Tengah untuk memimpin sholat tarawih. Ah, pengen rasanya merasakan ibadah malam disana. Lain waktu, aku harus kembali ke Aceh.

bandara sultan iskandar muda
Bandara Sultan Iskandar Muda dari runaway
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, itu tandanya kami harus segera bergegas ke Bandara Sultan Iskandar Muda. Driver taksi online mengantarkan kami menuju kesana. Dan setelah menunggu 1 jam, panggilan untuk boarding pesawat mengakhiri petualanganku, Dobi, dan Dicky di Tanah Rencong. Akhir kata, Wasssalamualaikum Aceh.

You Might Also Like

0 comments