Memahami Duka Aceh Melalui Museum Tsunami

June 11, 2018

Lorong sempit, gelap gulita, sesekali ada percikan air yang akan membasahi baju kita ditambah suara gemuruh seperti ombak yang menjadi backsoundnya. Itulah suasana yang akan menyambut kita saat pertama kali memasuki “Rumoh Aceh the Escape Hill” atau yang lebih dikenal dengan nama Museum Tsunami Aceh. Filosofi dibuat lorong seperti ini adalah agar pengunjung bisa membayangkan sekaligus merasakan bagaimana rasanya berada di tengah kepungan ombak gelombang tsunami 14 tahun lalu. Oke, ini baru permulaan bangunan tapi aku sudah mulai merinding.


sayembara desain museum
Sayembara desain museum
Sebelum lanjut ke cerita berikutnya, taukah temen-temen siapa arsitek perancang Museum Tsunami Aceh? Dia adalah seseorang yang saat ini sedang menjabat sebagai Walikota Bandung. Yak, sudah jelas banget cluenya, dialah Bapak Ridwan Kamil atau yang lebih akrab disapa Kang Emil. Beliau menjadi pemenang sayembara desain arsitektur museum mengalahkan puluhan desain lainnya. Bangunan museum tampak dari luar seperti kapal besar yang sedang berlabuh, berbentuk seperti panggung yang terinspirasi dari rumah panggung tradisional Aceh. Kami tidak dipungut biaya saat memasuki museum ini, petugas hanya memberikan karcis sebagai tanda bahwa kita adalah pengunjung museum tsunami Aceh.
lafadz allah sumur doa
Lafadz Allah di atap sumur doa
Kang Emil merancang museum ini sarat dengan makna. Lewat dari lorong, kita akan bertemu dengan papan yang dibentuk bertingkat seperti kuburan. Papan ini bertuliskan tentang hal-hal mengenai tsunami Aceh. Selanjutnya ada ruangan sumur doa. Ruangan ini gelap dengan sedikit penerangan lampu, berbentuk seperti kerucut, dengan dinding yang memutar. Pada bagian dinding sumur doa, terukir nama para korban Tsunami Aceh yang membentuk spiral ke atas. Bagian atap dari sumur doa , tertulis lafadz “Allah” yang melambangkan bahwa Allah lah sang pemilik kedudukan tertinggi. Di bagian ini, aku memperhatikan dengan detail satu per satu nama korban yang terukir di dindingnya, kemudian aku menyempatkan untuk sejenak berdoa untuk para korban.
lorong damai museum
Lorong Damai
Sebelum menuju lantai 2 museum, kami melewati bagian jantung bangunan berupa jalan menanjak ke atas. Terpampang tulisan kata “Damai” menggantung di bagian atapnya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa negara-negara di dunia. Lantai 2 berisikan maket bangunan museum, ruangan bioskop untuk menonton film, dan ruangan infografis tentang tsunami aceh dan kisah orang-orang yang selamat seperti Martunis dan Delisa. Khusus di ruangan ini, aku benar-benar membaca detail setiap kisah orang-orang tersebut. Khusyuk aku membacanya hingga aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Entah, sepertinya mereka memang manusia-manusia yang terpilih oleh seleksi alam, menjadi saksi hidup bencana dahsyat itu. Raut muka yang mereka pancarkan di foto terlihat tegar, optimis, dan tidak patah semangat sedikitpun untuk menjalani kehidupan setelahnya.
kisah martunis
Martunis
from the world to aceh
From the world to Aceh
Rasa penasaran masih menyelimuti lubuk hati kami hingga akhirnya tiba di lantai 3 museum. Di sini, ada beberapa ruangan yang berisikan benda-benda peninggalan tsunami Aceh, seperti benda rumah tangga (gelas, cangkir, termos, dan perabotan rumah tangga lainnya), sepeda yang ditemukan hanyut terbawa tsunami, dan masih banyak lagi benda-benda yang masih terjaga keasliannya dan tersimpan rapi. Di salah satu ruangan juga tersaji beberapa diorama tsunami yang bisa kita mainkan dengan cara menekan tombol yang disediakan.
benda peninggalan tsunami
Benda rumah tangga
diorama museum tsunami
Diorama tsunami
Rasanya kalau menerangkan hingga detail isi dari setiap infografis yang terpajang di museum, belasan artikel pun rasanya masih kurang. Berada di museum tsunami Aceh, mata dan otakku dipaksa untuk bekerja lebih keras dari biasanya, mencoba untuk meresapi setiap makna dari kalimat-kalimat yang aku baca. Yang pasti, setelah aku berkunjung kesana, mindsetku tentang museum yang berisikan benda-benda kuno, foto-foto lama, dan hal membosankan lainnya seketika berubah. Terima kasih Aceh karena sudah menyadarkanku.
museum tsunami aceh
Museum tampak dari luar

You Might Also Like

0 comments