Gunung Rinjani, Menggapai Puncak Dewi Anjani

January 28, 2018

Gunung ini laksana sebuah tempat yang menjadi mimpi bagi sebagian besar pegiat alam bebas, tidak hanya dari dalam negeri namun juga dari mancanegara. Awalnya, aku juga tidak menyangka bisa merencanakan dan mengumpulkan uang demi perjalanan paling ekstrim dan terjauh selama hidupku. Sesuai judul postingan ini, aku akan menceritakan pengalamanku dan keempat kawanku, Dicky, Adis, Berlian, dan Ruru, menggapai puncak tertinggi Dewi Anjani.

Perjalanan Jakarta – Lombok
Jum’at 22 Desember 2017 pukul 23.30 WITA, pesawat kami mendarat dengan mulus di Lombok International Airport. Keberangkatan kami berasal dari 2 titik yang berbeda. Aku, Dicky, Berlian dan Ruru berasal dari Jakarta, sedangkan Adis dari Surabaya. Pak Rizil dan team telah menunggu di pintu kedatangan bandara. Oiya, fyi, perjalananku ke Rinjani ini dipermudah dengan kehadiran orang local seperti yang telah aku sebutkan. Per orang, kami dikenakan tarif Rp 1.200.000 dengan fasilitas sbb :

  • Transportasi jemput dan antar ke bandara.
  • Penginapan 2 malam (sebelum dan setelah pendakian).
  • Makan selama di penginapan.
  • Pick up dari rumah ke basecamp.
  • Simaksi, Guide dan Porter Rinjani.
  • Makan selama pendakian 4 hari 3 malam.
Perjalanan menuju Basecamp
Kantor-Rinjani.jpg
Kantor Rinjani
Pagi hari di tanah Sembalun, udara dingin berhasil menembus untaian baju di tubuh kami. Namun, semangat untuk menjelajahi Rinjani tak boleh surut. Setelah sarapan, kami bergegas untuk packing keperluan yang akan kami bawa selama 4 hari 3 malam di Gunung Rinjani. Kami hanya membawa barang seperlunya saja di carrier, sisanya? Serahkan saja kepada Pak Rizil dan team hehehe. Pukul 09.00 kami mendatangi Kantor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani yang berada di Sembalun untuk mengurus simaksi. 
Pickup-Rinjani.jpg
Pickup Rinjani
Basecamp – Pos 1

Jalur pendakian Gunung Rinjani via Sembalun adalah jalur favorit yang sering digunakan oleh para pendaki. Sebagai permulaan, pendaki akan menemui track yang membuat mereka terlena. Mengapa bisa begitu? Landai banget cuy, paling hanya ada sedikit tanjakan, alhasil tenaga kita pun serasa masih full di sepanjang perjalanan. 
Trek-datar-ke-pos-1.jpg
Trek datar ke pos 1
Pemandangan yang menemani kita di awal jalur ini adalah persawahan dan ladang penduduk sekitar. Eits tidak hanya itu saja, kita juga akan bertemu dengan padang savanna hijau yang sangat luas yang dihuni oleh kawanan sapi yang sedang diumbar oleh pemiliknya untuk mencari makan di padang savanna ini. Tentu dong, kami tidak boleh ketinggalan untuk mengabadikan momen ini. 
Sapi-Rinjani.jpg
Sapi Rinjani
Perjalanan dari basecamp – Pos 1 menempuh jarak 3,7 Km dan kami tempuh dengan waktu 2,5 jam. Pos 1 ini berupa shelter kecil yang berada di tengah-tengah padang savanna yang hijau. Kami beristirahat sebentar untuk sekedar minum dan mengunyah snack yang kami bawa.

Pos 1 – Pos 2
Pos-1.jpg
Pos 1

Pak Rizil berteriak lantang menyemangati kami bahwa Pos 2 letaknya tidak jauh dari Pos 1. Ia memperkirakan tidak ada 30 menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai kesana, karena jalan yang akan kami lalui ya seperti jalan datar biasa tidak ada tanjakan yang terlalu menguras tenaga. 
Pos-2.jpg
Pos 2
Benar saja, rasanya kami baru saja memulai langkah dari Pos 1, eh tau-tau sudah nyampai saja di Pos 2. Berbeda dengan Pos 1, fasilitas yang ada di Pos 2 ini lebih lengkap. Tersedia shelter yang cukup besar dan ada fasilitas pendukung lainnya seperti toilet dan saung yang bisa difungsikan sebagai tempat sholat. Rombongan kami beristirahat agak lama disini, sembari kami berlima sholat, Pak Rizil menyiapkan makan siang untuk kami. 

Pos 2 – Pos 3 Bayangan

Perut kenyang, kewajiban agama sudah tertunaikan. Itu artinya, perjalanan kami sudah selesai *lhoo maaf, maksudnya berlanjut gaes ke pos selanjutnya. Pak Rizil sudah mewanti-wanti kalau setelah Pos 2 ini treknya jauh berbeda dengan trek sebelumnya karena kita akan berhadapan dengan tanjakan yang agak curam. Tapi, beliau juga memberi spoiler kepada kami bahwa setelah Pos 3 ada lagi tanjakan yang lebih gila. Ah.. semangatku sempat meredup gara-gara beliau berkata seperti itu.
Savanna-Rinjani.jpg
Savanna Rinjani
Awal perjalanan kami menuju Pos 3 aku anggap sebagai perjalanan dengan pemandangan terindah sejauh ini. Hamparan padang savanna Rinjani yang mengelilingi kami seolah memanjakan mata dan memaksa untuk diabadikan dalam lensa kamera. Kalau dengan pemandangan seperti di bawah ini, apa nggak bikin males gerak gaes.
Savanna-Rinjani-(2).jpg
Savanna Rinjani (2)
Hujan turun rintik-rintik saat kami sampai di sebuah shelter dekat sungai yang menandakan bahwa inilah Pos 3 bayangan. Kera abu-abu kecil akan menjadi teman kita berisitrahat di pos ini. Hati-hati ya terhadap barang bawaan kita :D

Pos 3 Bayangan – Plawangan
Awal-7-Bukit-Penyesalan.jpg
Awal 7 Bukit Penyesalan

Kami start pendakian dari pos 3 bayangan pukul 4 sore. Awalnya, Pak Rizil bilang kalau kita gak akan sampai di Plawangan, rencana tempat kami ngecamp, mengingat hari yang semakin gelap ditambah lagi hujan yang membasahi trek pendakian yang membuat licin dan menyulitkan langkah kami. Tapi, aku dan Dicky tetap optimis melihat kemungkinan bahwa kita akan camp di Plawangan, ya meskipun sampainya nanti pasti saat malam hari tiba.

Persiapkan stamina yang ekstra gaes setelah ini. Sebagaian besar pendaki yang telah mengecap kenyangnya Rinjani bertutur bahwa trek inilah yang dinamakan 7 bukit penyesalan. Waw, didengar dari namanya saja sudah membuat pikiran negative berkecamuk di benak kami. Dinamakan sebagai 7 bukit penyesalan karena kita akan melewati 7 gundukan tanah padat yang bisa jadi akan membuat kita menyesal saat melewatinya. 

Bagaimana tidak, saat kami melihat bahwa gundukan pertama tersebut adalah akhir dari perjalanan melelahkan di trek ini, ternyata itu hanyalah sebuah fatamorgana belaka. Masih ada gundukan lain yang harus kami lahap. Begitu seterusnya berulang hingga 7x. Beuh, bisa dibayangkan lah bagaimana ekstrimnya jalur ini. 

Saat melalui trek ini, aku tidak terlalu banyak mengambil dokumentasi, karena hari sudah gelap dan aku lebih fokus mengatur nafas agar bisa sampai di Plawangan dengan sehat. Tips bagi kalian untuk melalui trek ini adalah konsisten dalam berjalan dan tidak banyak istirahat. Karena jika sebaliknya, hal itu akan membuat tenaga kita terforsir. Nikmati suguhan yang diberikan Rinjani ini, jangan mengeluh!

Kami sampai di Pos Plawangan tepat pukul 9 malam. Jika dihitung-hitung dari Pos 3 tadi, kurang lebih kita menempuh waktu sekitar 5 jam. Hujan gerimis yang mengguyur serasa menghambat langkah kaki karena trek menjadi licin dan pakaian basah kuyup membuat kami merasa kedinginan. Setelah tenda dan makanan siap, kami langsung melahapnya agar bisa segera beristirahat dengan nyaman di tenda.

Plawangan
Plawangan-Sembalun.jpg
Plawangan Sembalun

Dering handphone membangunkanku pagi itu di Plawangan. Aku sontak kaget, bunyi apa ini padahal aku tidak setting alarm untuk bangun pagi mengingat aku ingin tidur pulas sampai siang hari. Ternyata, dering itu adalah bunyi ratusan chat yang masuk di handphoneku. Hal itu secara tidak langsung menandakan kalau di Plawangan ada sinyal gaes! Ya meskipun kualitas sinyalnya kurang bagus, tapi lumayan lah bisa menggunakan fitur chatting di whatsapp.

Aku tidak terlalu menghiraukan sinyal di sini. Teriakan para pendaki lain di luar tenda malah yang membuatku semangat untuk sejenak keluar dari tenda, menyapa hawa dingin Plawangan Sembalun. Benar saja, pemandangan di luar tenda sangat ciamik! Saat malam hari memang tidak kelihatan apapun, tapi siapa sangka, siang harinya ada pemandangan seperti ini!
Plawangan-View.jpg
Plawangan View
Hari itu, kami full menikmati pemandangan di Plawangan, tidak melakukan trekking sedikitpun. Kami ingin recovery tubuh dengan banyak istirahat dan bersantai setelah dihajar trek 7 bukit penyesalan semalam. Sesekali, kami berjalan dari ujung ke ujung di camp Plawangan ini untuk bertegur sapa dengan pendaki lain. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan nak, masya Allah.
In frame with bule
Plawangan Sembalun – Puncak
Trek-ke-summit.jpg
Trek ke summit

Setelah beristirahat seharian penuh, tiba saatnya kami harus summit attack menuju Puncak Dewi Anjani. Pak Rizil membangunkan kami pukul 12 malam dan ditambah bonus makanan berat telah disiapkan untuk kami sebagai sumber tenaga utama trekking nantinya. 
Summit-Attack.jpg
Summit Attack
Awal mula perjalanan menuju puncak bisa dibilang tidak ada hambatan berarti, karena saat itu posisi tenaga kami masih full dan tidak membawa beban apapun. Namun, saat posisi sampai di setengah perjalanan menuju puncak, trek berubah dari tanah padat menjadi batuan dan pasir. Ah… hal ini mengingatkanku tentang ganasnya summit attack menuju Puncak Mahameru (Baca: Menggapai Puncak Mahameru). Kaki melangkah naik 3 kali, turun 2x

Saat langkah kaki ini tinggal sedikit lagi sampai puncak, matahari mulai menampakkan sinarnya. Ah.. gagal sudah pikirku karena saat itu aku berpikiran bahwa kita akan menikmati sunrise di Puncak Rinjani. Sejenak, aku berhenti di tengah perjalanan, mencoba mengabadikan pemandangan indah ini di tengah perjalanan menuju Puncak Dewi Anjani. 
Rinjani-Top-View.jpg
Rinjani Top View
Tepat pukul 06.30, kaki ini berhasil menapak di ketinggian 3726 mdpl. Bahagia bercampur haru menyeruak dari raga ini. Perjuangan 3 hari 2 malam, melewati 7 bukit penyesalan, diguyur hujan, trek licin, dan segala lika liku pendakian berhasil kami lalui. Aku reflek sujud syukur di titik tertinggi Rinjani ini. Disana, aku juga bertemu dengan beberapa pendaki yang sudah terlebih dahulu sampai di puncak. Raut kegembiraaan terpancar dari wajah mereka.

Namun, kebahagiaan kami langsung terkikis oleh datangnya kabut pekat dan hujan gerimis di puncak Rinjani. Sontak, kami langsung memutuskan untuk segera turun menuju Plawangan sebelum hujan semakin deras. Dan… terlambat. Kami turun melewati trek pasir tadi seakan melawan arah angin yang kencang menerpa tubuh. Langkah kami semakin berat. Perlahan tapi pasti, kami bisa melalui badai yang menyerang tersebut dan sampai di Plawangan dengan keadaan selamat dan basah kuyup.

Saat itu juga, aku dengar kabar dari Pak Rizil bahwa trek menuju Danau Segara Anak dan Basecamp Senaru longsor. Beliau menuturkan bahwa kita harus mengubah rencana untuk tidak jadi lintas basecamp Sembalun-Senaru. Baiklah, kami ikuti apa katanya karena beliau lebih tahu tentang medan yang akan kita lalui. Sebetulnya aku merasa sedikit kecewa, karena di benak sudah terngiang pemandangan Danau Segara Anak dan Pemandian Air Panas yang istimewa itu. 

Tapi, alam sejatinya tidak untuk dilawan. Sekali kita melawan, alam akan lebih ganas daripada yang kita bayangkan. Memang saat itu, kami memilih waktu pendakian yang salah yaitu pada bulan Desember. Padahal seperti yang khalayak tahu, bahwa bulan-bulan tersebut, Indonesia sedang dilanda musim penghujan. Ya.. mau tidak mau, itulah konsekuensi yang harus kita tanggung.

Hingga sampai di rumah Pak Rizil, aku masih merasakan sesuatu yang mengganjal karena gagal merealisasikan bayanganku untuk mancing di Segara Anak dan merasakan hangatnya pemandian air panas disana. Lantas, apakah aku sedih? Tidak. Rinjani telah menunaikan janjinya kepadaku untuk memperlihatkan kecantikannya di hadapan mata kepala secara langsung. Tapi, aku berikrar dalam diriku sendiri bahwa aku masih berhutang kepada Rinjani untuk melihat kecantikan Danau Segara Anak dari dekat. Sampai jumpa pada kesempatan pertama, Rinjani. 
Kiri-Kanan : Dicky, Ruru, Berlian, Adis, Faliq, Pak Rizil
Highest-Peak-of-Rinjani.jpg
Highest Peak of Rinjani

You Might Also Like

0 comments