Gunung Sumbing, Lautan Awan yang Mempesona

July 01, 2017

Bagi orang-orang yang tinggal di sekitar Kabupaten Magelang dan Temanggung, Gunung Sumbing merupakan satu di antara jajaran pegunungan yang mengelilingi 2 kabupaten tersebut. Memiliki ketinggian 3371 mdpl, Gunung Sumbing merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Tengah setelah Gunung Slamet (3428 mdpl).

Pada kesempatan yang berbahagia ini, aku bersama temanku Dicky, akan mencoba menjelajah gunung ini melalui jalur Butuh, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Kenapa aku pilih jalur ini? Katanya sih, kalau lewat jalur ini, pemandangan lautan awannya sangat menawan, mengalahkan jalur pendakian Sumbing via Garung, Banaran, Bowongso, dan Cepit Parakan. Aku akan membuktikannya!

Perjalanan ke Basecamp
Kebetulan kami berdua tinggal di Magelang, bedanya aku tinggal di kabupatennya, sedangan Dicky di kotanya. Kami berangkat menggunakan motor masing-masing, dengan pertimbangan kalau boncengan akan sedikit menyulitkan perjalanan kami karena jalan yang menanjak dan membawa carrier masing-masing di punggung.

Perjalanan menuju basecamp Butuh memakan waktu 1 jam dari Kota Magelang, berangkat sekitar jam 10 pagi dan sampai disana jam 11. Kami putuskan untuk mengisi perut di basecamp dengan nasi rames sebelum melakukan pendakian. For your information, simaksi Gunung Sumbing saat itu Rp 10.000/orang ditambah parkir motor 5.000/motor. Lumayan terjangkau lah.
basecamp sumbing
Basecamp Butuh Kaliangkrik
rute pendakian sumbing
Rute Pendakian
Basecamp - Pos 1
Petualangan kami dimulai pukul 1 siang. Perkebunan warga yang hijau seolah bertindak sebagai pintu gerbang pendakian. Jalanan setapak bebatuan yang menanjak tipis-tipis harus kami santap untuk sampai di Pos 1. Keadaan cuaca saat itu agak mendung dan diselimuti kabut. Sebenarnya, berat banget memikul beban carrier yang masih utuh dan belum berkurang sedikitpun melewati trek seperti ini. Namun, ini baru permulaan bung, jangan menyerah!

kebun teh sumbing
Pemandangan menuju Pos 1
Kurang lebih 2 jam waktu yang kami tempuh untuk sampai pos 1. Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak melepas lelah karena dihajar trek permulaan tadi. Dicky juga terlihat kelelahan, mungkin karena dia sudah lama tidak mendaki gunung karena tugas di Papua hahaha
pos 1 sumbing
Penanda Pos 1
Pos 1 - Pos 2
Setelah cukup beristirahat, lanjut ke Pos 2. Trek menuju pos 2 ternyata lebih amsyong dibanding sebelumnya. Trek ini beralaskan tanah dan berbentuk seperti tangga. Awalnya kami kira jalanan seperti tangga ini akan sedikit meringankan beban kami, namun ternyata sebaliknya. Masih berat juga bung. Tapi Alhamdulillah, Pepohonan rimbun melindungi kami dari teriknya matahari di siang itu.
trek tangga sumbing
Jalanan seperti tangga menuju Pos 2
Waktu tempuh menuju Pos 2 ini lebih pendek dibanding sebelumnya. Kali ini, kami hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai. Pos 2 ini hampir sama seperti pos 1, berupa pondokan beratap, namun sedikit agak lebar. Kami memilih untuk rehat sejenak.
pos 2 sumbing
Pos 2
Pos 2 - Pos 3
Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 adalah perjalanan yang sangat asik. Medan berbatu dan tanjakan kejam seketika lenyap tak berbekas, berganti dengan trek tanah landai, banyak bonus, dan pemandangan terbuka. Sepanjang perjalanan, kita dihimpit oleh semak belukar di sebelah kanan kiri trek. Sebenarnya kita sudah bisa melihat puncak Sumbing, namun aku masih belum yakin apakah yang aku lihat itu puncaknya atau bukan.
puncak bayangan sumbing
Puncak atau bukan?
Alhamdulillah pada pendakian saat itu, cuaca benar-benar bersahabat. Cerah, langit biru terbuka lebar, nyaris tanpa celah. Alhasil, ya seperti yang aku bilang tadi, aku bisa melihat hamparan rumput luas, punggungan gunung Sumbing yang menjulang gagah ke langit. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan ketika melihat pemandangan seperti ini? :D
pos 3 sumbing
Pos 3
Pos 3 adalah sebuah dataran yang menurutku cukup luas. Apabila sudah gelap dan merasa capek, pendaki bisa mendirikan tenda disini. Namun, mungkin hanya muat untuk 2-3 tenda saja, karena tempat camp sebenarnya ada di Pos 4. Aku dan Dicky saat itu sampai di Pos 3 sekitar pukul 5 sore. Karena merasa hari masih cerah dan terang, kami memutuskan untuk lanjut ke Pos 4.

Pos 3 - Pos 4
Setelah dimanjakan oleh trek landai, selepas pos 3 trek sedikit menanjak namun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Masih berupa jalan setapak kecil yang muat 2 orang saja dengan pemandangan rumput terbuka. Memang sesekali, ada tanjakan yang memaksa kita untuk mengeluarkan tenaga lebih banyak. Namun semua itu terbayar lunas oleh pemandangan awan. Pesanku hanya satu sih saat melewati trek ini, jangan buru-buru! Kenapa?  Lautan awan sangat memanjakan mata, seolah-olah menahan mata kita untuk berhenti berkedip. Aku tidak mau kelewatan momen begitu saja, harus aku abadikan!
matahari sumbing
Matahari yang tenggelam di lautan awan
Perjalanan menuju Pos 4 dari Pos 3 memakan waktu 2 jam. Disinilah kita akan ngecamp. Tempatnya sangat luas, bisa muat hingga puluhan tenda. Saat itu karena aku mendaki saat musim lebaran, tidak terlalu banyak pendaki yang berada di sana, sehingga kami tidak kesulitan mencari lahan datar untuk mendirikan tenda. Dari Pos 4 ini juga kita bisa melihat pemandangan yang lumayan bagus juga. Beginilah viewnya ---
pos 4 sumbing
View dari pos 4

Kira-kira jam 7 malam atau 6 jam waktu yang dibutuhkan dari basecamp untuk sampai di Pos 4. Kondisi saat itu dingin banget, kami bergegas untuk mendirikan tenda dan membuka perbekalan untuk makan malam. Setelah lahap menyantap hidangan makan malam, kami beristirahat sebagai persiapan untuk summit attack esok hari.

Pos 4 - Puncak
Bunyi alarm cukup keras membuyarkan mimpi indah tidurku pada pukul 4 pagi ketika aku melihat jam tangan di tangan kiriku. Aku membangunkan Dicky saat itu juga. Dingin, kantuk, dan malas harus kami lawan untuk melihat sunrise di puncak. Kami terus berjalan menembus gelap pagi hari itu, menyusuri jalan setapak yang seolah-olah sudah menunjukkan trek menuju puncak.

Ternyata ekspektasi kami untuk melihat sunrise di puncak hilang seketika. Mentari sudah menyembul perlahan di tengah-tengah perjalanan kita. Menyadari bahwa sunrise telah muncul, aku dan Dicky berhenti sejenak, membalikkan badan untuk menikmati indahnya kreasi Sang Maha Pencipta. Aku tidak berhenti mengucap syukur atas nikmat sehat yang Allah berikan sehingga aku bisa melihat pemandangan seperti ini.
lautan awan sumbing
Action dulu gan
sunrise awan sumbing
Lautan awan yang membuatku tak berhenti berdecak kagum
Singkat cerita, pukul 6 pagi kami sampai di Puncak Sejati Gunung Sumbing. Alhamdulillah kami berhasil menginjakkan kaki di ketinggian 3371 mdpl. Saat sampai di puncak, ternyata hanya kami berdua disitu, tidak ada orang lain sehingga kami puas berfoto-foto menikmati pemandangan sekitar. Dari puncak Gunung Sumbing ini kita bisa melihat pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu berjajar cantik di sebelah timur.

puncak sumbing 3371
Puncak Sejati Gunung Sumbing 3371 mdpl
siluet puncak sumbing
Masya Allah

-Magelang, 28-29 Juni 2017-

You Might Also Like

1 comments